Ilustrasi. Foto: Grafis Medcom.id
Ilustrasi. Foto: Grafis Medcom.id

Penawaran Pinjaman Lewat SMS Dipastikan dari Fintech Ilegal

Ekonomi Pinjaman Online
Husen Miftahudin • 13 Juli 2020 19:21
Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan penawaran pinjaman melalui pesan singkat berupa SMS (Short Message Service) berasal dari fintech peer to peer lending (pinjaman online) ilegal. Pinjaman online yang terdaftar dan berizin di OJK dilarang melakukan promosi tanpa izin pemilik nomor handphone tersebut.
 
"Penawaran yang ada di SMS itu pasti fintech ilegal, karena fintech legal itu dilarang berpromosi tanpa izin dari pemilik handphone itu. Kalau ada, itu pelanggaran. Sudah ada ketentuannya di POJK (Peraturan OJK), jadi tidak boleh," tegas Deputi Direktur Pengaturan, Penelitian, dan Pengembangan Fintech (DP3F) OJK Munawar Kasan dalam telekonferensi bersama, Senin, 13 Juli 2020.
 
Oleh karena itu masyarakat diminta waspada dan mengabaikan pesan penawaran pinjaman tersebut. Bila perlu, memblokir kontak tersebut agar tidak melakukan pengiriman dengan pesan serupa.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sayangnya, lanjut dia, banyak masyarakat yang tergiur dengan penawaran tersebut. Sehingga secara tak sadar mengklik tautan yang tertera dalam pesan singkat itu.
 
"Di tengah pandemi seperti sekarang ini mungkin banyak masyarakat yang butuh pendanaan, butuh uang. Dengan SMS seperti itu dan meng-klik tautannya, bisa langsung masuk ke aplikasinya dan bertransaksi, sehingga tidak sempat berpikir (penawaran pinjaman) ini legal apa tidak," tuturnya.
 
Alhasil, masyarakat menjadi korban karena pinjaman yang ditandatangani tersebut mengenakan bunga tinggi dan jangka waktu pinjaman pendek. Tak hanya itu, pinjaman online ilegal juga akan meminta akses semua data kontak di ponsel nasabah.
 
Parahnya lagi, pinjaman online ilegal ini bakal menyebarkan pesan singkat yang menyudutkan nasabah ketika angsurannya lewat dari jatuh tempo. Bahkan, data kontak tersebut digunakan pinjaman online ilegal untuk mengintimidasi saat penagihan.
 
Hingga Mei 2020, total terdapat 2.591 pinjaman online ilegal. Sementara pinjaman online yang legal mencapai sebanyak 158 dengan 125 di antaranya telah terdaftar di OJK, sedangkan 33 lainnya sudah memperoleh izin sebagai penyelenggara fintech peer to peer lending.
 
"Artinya jumlah (pinjaman online legal) ini sangat kecil dibandingkan yang ilegal. Tentu saja yang ilegal ini tidak hanya merusak citra industri fintech itu sendiri, karena masyarakat hanya tahu fintech itu selalu buat masalah sehingga masyarakat punya citra dan persepsi negatif terhadap fintech," ungkap Munawar.
 
Padahal bila pinjaman online ini dimanfaatkan dengan baik, maka akan sangat membantu ekonomi masyarakat yang berada di level bawah. "Apalagi teman-teman yang fintech legal itu beroperasi di pertanian, di toko-toko kelontong, nelayan, dan lainnya. Sehingga kontribusi ekonominya signifikan," tutup Munawar.

 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif