SBMA merupakan produsen gas oksigen yang berlokasi di Balikpapan. Sedangkan, GTSI merupakan perusahaan yang bergerak di bidang distribusi gas alam dan buatan serta transportasi laut dalam negeri dan luar negeri untuk barang khusus dan aktivitas holding.
Pada aksi penawaran umum perdana saham hari ini, SBMA melepas sebanyak 278,4 juta lembar saham dengan harga yang ditawarkan Rp180 per saham. Perusahaan berharap dapat mengumpulkan dana segar senilai Rp50,11 miliar.
Corporate Secretary SBMA Cintia Kasmiranti menjelaskan, dana yang dihimpun dari IPO tersebut akan digunakan untuk mengembangkan bisnis perseroan.
Ia merinci sebanyak 49,01 persen akan digunakan untuk membeli lahan, 37 persen digunakan untuk investasi pabrik dan alat-alat penunjang seperti storage tank dan tabung gas. Lalu, 13,99 persen akan digunakan sebagai modal kerja perusahaan.
Sementara itu, GTSI melepas saham sebanyak 2,4 miliar dengan harga Rp100 per saham sehingga perusahaan membidik dana Rp240 miliar.
Direktur Utama GTSI Kemal Imam Santoso mengatakan dana IPO akan digunakan sebanyak 64 persen untuk pinjaman PT Anoa Sulawesi Regas yakni untuk membangun permanent FSRU. Lalu, sekitar 20 persen akan digunakan untuk belanja modal, dan 16 persen untuk penyertaan modal kepada Anoa.
Berdasarkan pantauan Medcom.id, Rabu, 8 September 2021 saham SBMA naik 34,44 persen atau 62 poin ke level Rp242 per saham. Saham SBMA ditransaksikan sebanyak 1.020 kali dengan volume 13,12 juta saham.
Sedangkan saham GTSI justru melemah tujuh persen atau tujuh poin ke level Rp93 per saham. Saham GTSI ditranslasikan sebanyak 360 kali dengan volume 11,58 juta saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News