Ilustrasi perdagangan saham. Foto: MI.
Ilustrasi perdagangan saham. Foto: MI.

Mau Cuan? Lirik Saham Properti

Antara • 24 Mei 2022 11:47
Jakarta: Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksono menilai kinerja sektor properti kini mulai bangkit dari dampak pandemi. Investor pun juga dapat mencermati saham-saham dari emiten properti yang tumbuh.
 
Menurut Herditya, pertumbuhan penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan relaksasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) oleh pemerintah diyakini akan kembali memutar perekonomian Indonesia.
 
"Selanjutnya, dengan adanya perpanjangan subsidi PPN, diperkirakan juga akan menjadi katalis positif dari sektor properti," ujarnya dikutip dari Antara, Selasa, 24 Mei 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun, dia mengingatkan investor juga perlu memperhatikan akan adanya kenaikan bahan baku ataupun bahan pokok akibat adanya kenaikan harga komoditas global karena konflik dari Rusia dan Ukraina.
 
"Di sisi lain, pelaku pasar juga dapat mencermati dari suku bunga yang ada kemungkinan kenaikan di semester II-2022," kata Herditya.
 
Dari beberapa laporan keuangan kuartal I-2022 emiten properti, terlihat perbaikan kinerja terutama dari sisi pendapatan. Sinyal itu ditangkap pelaku pasar dengan melakukan akumulasi beli pada berapa saham saham emiten properti.
 
Adapun kinerja emiten properti yang mengalami kenaikan seperti PT Ciputra Development Tbk (CTRA) yang membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 20,75 persen, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 21,4 persen secara tahunan pada kuartal I-2022, dan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) mengalami kenaikan pendapatan sebesar 37,2 persen secara tahunan pada kuartal I-2022.
 
Hal itu juga diikuti dengan pendapatan emiten properti kelas menengah ke bawah. Misalnya, PT Trimitra Propertindo Tbk (LAND) yang mengalami kenaikan pendapatan 55,5 persen secara tahunan pada 2021.
 
Menariknya, saham LAND mengalami kenaikan 90 persen dalam satu bulan perdagangan bursa setelah mencapai level terendah selama empat tahun tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
 
Sementara itu, analis BNI Sekuritas Andri Zakaria mengatakan, pelaku pasar saat ini memanfaatkan harga murah LAND setelah mencapai titik tertinggi Rp1.871 per saham pada Juli 2019.
 
"Secara jangka pendek sudah kelebihan pembelian dan divergence indikasi peluang kenaikan sudah relatif terbatas minat beli bisa dilampaui minat jual dalam waktu dekat," ujar Andri.
 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif