Ilustrasi. FOTO: Medcom.id
Ilustrasi. FOTO: Medcom.id

Mengenal Apa Itu Suku Bunga

Angga Bratadharma • 06 Juli 2022 14:04
Jakarta: Ekonomi dunia sedang diguncang oleh ledakan inflasi usai pandemi covid-19 mulai terkendali. Untuk meredam inflasi yang panas, sejumlah bank sentral dari negara utama menaikkan suku bunga. Sejauh ini, The Fed hingga Bank of England (BoE) sudah menaikkan suku bunga.
 
Sedangkan di Indonesia, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 Juni 2022 memutuskan untuk mempertahankan kembali BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,50 persen, suku bunga deposit facility sebesar 2,75 persen, dan suku bunga lending facility sebesar 4,25 persen.
 
Keputusan itu sejalan dengan perlunya pengendalian inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar, serta tetap mendukung pertumbuhan ekonomi, di tengah naiknya tekanan eksternal terkait dengan meningkatnya risiko stagflasi di berbagai negara. Ke depan, ketidakpastian ekonomi global diperkirakan masih akan tinggi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hal tersebut seiring makin mengemukanya risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan inflasi global, termasuk sebagai akibat dari makin meluasnya kebijakan proteksionisme terutama pangan, yang ditempuh oleh berbagai negara. Untuk itu, Bank Indonesia terus menempuh berbagai langkah penguatan bauran kebijakan.
Baca: Ini Pengertian APBN, RAPBN, serta Proses Penyusunannya

Lantas apa itu suku bunga acuan bank sentral? Suku bunga acuan bank sentral merupakan bagian dari kebijakan moneter yang berfungsi memelihara stabilitas nilai mata uang dan amunisi utama dalam mengendalikan inflasi ketika bergerak tinggi dan liar.
 
Suku bunga acuan menjadi referensi atau acuan bagi bank dalam menetapkan suku bunga pinjaman dan suku bunga simpanan (tabungan atau deposito). Jika bank sentral memutuskan menaikkan suku bunga acuan maka suku bunga simpanan dan pinjaman juga akan dinaikkan oleh bank.
 
Sedangkan dari sudut pandang investor, peningkatan suku bunga akan menguntungkan karena berpotensi mendapatkan keuntungan berupa bunga yang lebih besar. Sementara dari sudut pandang peminjam dana dari bank atau debitur, kenaikan suku bunga akan menambah beban berupa uang yang harus dibayar kepada bank atas konsekuensi meminjam dana.
 
Secara teori, saat suku bunga dinaikkan oleh bank sentral maka masyarakat akan cenderung menyimpan dananya di bank dengan harapan mendapatkan bunga yang lebih tinggi. Akibatnya, permintaan barang dan jasa akan cenderung turun karena masyarakat menyimpan dananya di bank. Kondisi ini bisa menjaga inflasi bergerak sesuai harapan bank sentral.
 
Adapun penurunan permintaan barang dan jasa akan mengurangi tekanan inflasi atau kenaikan harga-harga barang dan jasa di pasar. Pada konteks ini, pengendalian inflasi adalah salah satu tujuan penetapan suku bunga acuan oleh bank sentral.
 
Sedangkan secara sederhana, suku bunga bank diartikan sebagai balas jasa yang diberikan bank kepada nasabah yang membeli atau menjual produknya. Bunga juga dapat diartikan sebagai harga yang harus dibayarkan bank kepada nasabah (yang memiliki simpanan) dan harga yang harus dibayar oleh nasabah kepada bank (jika nasabah yang memperoleh fasilitas pinjaman).
 
Bunga bank bisa dibedakan ke dalam dua jenis, yaitu bunga simpanan dan bunga pinjaman. Bunga simpanan adalah balas jasa dari bank kepada nasabah atas jasa nasabah menyimpan uangnya di bank. Sedangkan bunga pinjaman adalah balas jasa yang ditetapkan bank kepada peminjam atas pinjaman yang didapatkannya.
 
(ABD)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif