Ilustrasi OJK - - Foto: dok MI
Ilustrasi OJK - - Foto: dok MI

OJK Beberkan Tantangan Pengembangan Perbankan Syariah

Husen Miftahudin • 25 Februari 2021 17:18
Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berupaya untuk terus mengeluarkan kebijakan terkait pengembangan perbankan syariah di Indonesia. Teranyar OJK meluncurkan Roadmap Pengembangan Perbankan Syariah Indonesia (RP2SI) 2020-2025 yang diharapkan mampu mendorong bank-bank syariah menjadi katalisator perekonomian Indonesia.

Kepala Eksekutif Pengawasan Perbankan OJK Heru Kristiyana mengakui industri perbankan syariah dihadapkan pada sejumlah tantangan dalam pengembangan kinerja dan bisnis mereka. Oleh karena itu, bank-bank syariah diminta segera mengadaptasi perubahan ekosistem perbankan yang cepat di tengah berlanjutnya pandemi covid-19 seperti sekarang ini.
 
"Kami melihat bahwa saat ini ekosistem perbankan kita dituntut untuk segera berubah seiring dengan perkembangan teknologi dan ditambah dengan berbagai desakan berbagai harapan dari para konsumen dan stakeholder di tengah pandemi covid-19 yang terus masih melanda kita," ujar Heru dalam Launching dan Konferensi Pers Roadmap RP2SI 2020-2025 secara virtual, Kamis, 25 Februari 2021.
 
Adapun ekspektasi produk dan layanan yang diinginkan konsumen dan stakeholder adalah bank syariah dituntut untuk mampu memitigasi digital ekonomi, shadow banking, cloud computing, mengadaptasi digital banking, open banking, dan virtual banking.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kita melihat juga perkembangan dari digital banking dan juga harapan-harapan dari konsumen dan stakeholder kita bahwa kita diharapkan sudah bisa open banking, kemudian virtual banking. Ini semuanya menjadi tantangan sekaligus harapan bahwa kita bisa memenuhi semua harapan dari para nasabah maupun stakeholder kita," tuturnya.
 
Dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut, penguatan struktur dan daya saing menjadi hal yang pokok. Revolusi ekonomi dan layanan digital juga tidak boleh ditinggalkan agar perbankan syariah dapat mendukung perekonomian nasional.
 
"Kami mengatakan bahwa pertumbuhan pembiayaan yang masih positif kita harapkan terus ditingkatkan. Jadi pertumbuhan yang positif itu menjadi hal yang sangat penting sebagai pijakan kita bagaimana perbankan syariah kita bisa mendukung perekonomian nasional kita," tegas Heru.
 
Perbankan syariah juga dihadapkan pada sejumlah tantangan perbankan secara umum. Di antaranya skala usaha, daya saing, kapasitas modal, risiko digital, cyber security, hingga system failure risk.
 
Oleh karena itu di dalam RP2SI OJK ingin menyeimbangkan antara pengembangan digital banking dengan layanan syariah. Termasuk bagaimana mengawal agar risiko cyber security dan risiko system failure yang juga terus berkembang. Kita akan seimbangkan supaya layanan digital itu tentunya tidak akan mengakibatkan risiko-risiko," papar dia.
 
Dari sisi tantangan struktural perbankan, bank-bank syariah juga dihadapi dengan persoalan penguatan struktur dan daya saing, revolusi ekonomi dan layanan digital, tuntutan pembiayaan perekonomian nasional, ketimpangan literasi dan inklusi keuangan, hingga transformasi pengaturan dan pengawasan.
 
"Adanya tantangan struktural terkait dengan ketimpangan literasi dan inklusi keuangan, ini juga merupakan pekerjaan rumah kita untuk terus kita lakukan perbaikan agar masyarakat kita juga melek keuangan dan yang kita harapkan juga melek perbankan syariah supaya mereka nanti melakukan transaksinya menggunakan perbankan syariah kita," pungkas Heru.
 
(Des)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif