"Nilai tukar rupiah kemungkinan bakal berakhir melemah lagi hari ini karena imbal hasil obligasi Pemerintah AS kembali menunjukkan kenaikan. Imbal hasil obligasi Pemerintah AS tenor 10 tahun menyentuh level tinggi baru sejak 17 Juni 2021 di 1,55 persen," kata Pengamat Pasar Uang Ariston Tjendra, dilansir dari Antara, Rabu, 29 September 2021.
Menurut Ariston, kenaikan imbal hasil tersebut sebagai antisipasi pelaku pasar terhadap peluang tapering yang akan dilakukan pada akhir tahun ini dan kemungkinan percepatan jadwal kenaikan suku bunga acuan AS. Hal itu mendorong penguatan dolar AS.
Ariston menambahkan penurunan indeks saham Asia pagi ini mengekor penurunan dalam indeks saham AS semalam dan menambah tekanan ke nilai tukar negara berkembang termasuk rupiah. "Pelaku pasar terlihat berupaya keluar dari aset berisiko. Ini juga kelihatannya imbas dari ekspektasi tapering tersebut," ujar Ariston.
Dari dalam negeri, jumlah kasus harian covid-19 pada Selasa, 28 September bertambah 2.057 kasus sehingga total jumlah kasus terkonfirmasi positif covid-19 mencapai 4,21 juta kasus. Sedangkan jumlah kasus meninggal akibat terpapar covid-19 mencapai 124 kasus sehingga totalnya mencapai 141.709 kasus.
Sementara itu, jumlah kasus sembuh bertambah sebanyak 3.551 kasus sehingga total pasien sembuh mencapai 4,03 juta kasus. Dengan demikian, total kasus aktif covid-19 mencapai 38.652 kasus. Untuk vaksinasi, jumlah masyarakat yang sudah disuntik vaksin dosis pertama mencapai 88,53 juta orang dan vaksin dosis kedua 49,66 juta orang dari target 208 juta orang.
Dirinya mengatakan rupiah hari ini berpotensi melemah ke kisaran Rp14.2300 per USD hingga Rp14.320 per USD dengan potensi penguatan di kisaran Rp14.250 per USD. Pada Selasa, rupiah ditutup melemah 20 poin atau 0,14 persen ke posisi Rp14.273 per USD dibandingkan dengan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.253 per USD.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News