Penguatan juga terjadi pada kelompok saham unggulan. Indeks LQ45 naik 3,30 poin atau 0,51% ke posisi 655,17.
Meski dibuka di zona hijau, pergerakan IHSG masih perlu dicermati karena indeks mulai mendekati area resistance. Secara teknikal, IHSG berpotensi mengalami pullback sebelum melanjutkan penguatan.
IHSG Berpotensi Pullback
Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas pada riset harian, Kamis, 3 September 2026 menjelaskan secara teknikal area support IHSG berada di level 6.500-6.550. Sementara itu, resistance berada pada 6.650-6.799. Posisi IHSG yang mulai mendekati resistance membuat ruang terjadinya pullback perlu diperhatikan investor. Pullback merupakan kondisi ketika harga atau indeks mengalami penurunan sementara setelah sebelumnya bergerak menguat.Namun, selama IHSG mampu bertahan di atas area support 6.500–6.550, struktur bullish jangka pendek masih terjaga. Artinya, peluang IHSG untuk kembali menguji resistance di area 6.650–6.799 masih terbuka.
Harga Komoditas Jadi Katalis IHSG
Selain faktor teknikal, pergerakan IHSG juga akan dipengaruhi sentimen dari pasar komoditas. Harga Brent yang berada di atas USD94 per barel menjadi salah satu katalis positif bagi saham sektor energi. Kenaikan harga minyak berpotensi memberikan sentimen terhadap emiten yang berkaitan dengan komoditas energi.Harga crude palm oil (CPO) sekitar MYR4.950 per ton juga menjadi perhatian. Level tersebut berpotensi menopang saham-saham sektor perkebunan dan CPO.
Dengan demikian, saham energi dan CPO berpeluang menjadi salah satu sektor yang menarik perhatian pasar apabila penguatan harga komoditas berlanjut.
Investor Menanti Data Tenaga Kerja AS
Dari pasar global, perhatian investor berikutnya tertuju pada data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan dirilis pada 4 September. Dua indikator yang menjadi sorotan adalah Nonfarm Payrolls (NFP) dan unemployment rate AS.Data tersebut penting karena dapat memberikan gambaran mengenai kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat sekaligus memengaruhi ekspektasi investor terhadap arah kebijakan The Fed.
Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga AS kemudian dapat berdampak pada pergerakan yield US Treasury dan sentimen pasar keuangan global, termasuk pasar saham Indonesia.