Ilustrasi. Foto: Freepik
Ilustrasi. Foto: Freepik

Hindari FOMO! Ini Kesalahan Kelola Portofolio yang Bikin Investasi Gagal Berkembang

Annisa ayu artanti • 22 Mei 2026 11:37
Ringkasnya gini..
  • Banyak investor gagal mengembangkan aset karena terlalu fokus pada tren jangka pendek dan FOMO.
  • Diversifikasi dan evaluasi rutin portofolio penting untuk menjaga stabilitas investasi jangka panjang.
  • Keputusan investasi emosional dan biaya tersembunyi bisa menghambat pertumbuhan aset secara signifikan.
Jakarta: Investasi makin jadi pilihan banyak anak muda buat menjaga kondisi finansial di masa depan. Tapi di tengah pasar yang bergerak cepat dan banjir informasi dari media sosial, tidak sedikit investor yang justru terjebak dalam kesalahan saat mengelola portofolio.
 
Padahal, strategi pengelolaan aset yang tepat jadi kunci penting agar investasi bisa tumbuh optimal dalam jangka panjang. 
 
Mengutip laman BCA Prioritas, laporan Research and Markets memproyeksikan pasar wealth management global tumbuh sebesar USD469,1 miliar sepanjang 2025-2030 dengan CAGR 8,1 persen.

Pertumbuhan itu didorong meningkatnya jumlah high-net-worth individuals (HNWI), perkembangan teknologi finansial, hingga kebutuhan strategi investasi yang lebih personal dan berbasis data.
 
Namun di balik peluang besar tersebut, masih banyak investor yang tanpa sadar melakukan kesalahan mendasar yang justru menghambat pertumbuhan aset mereka.
 
Baca jug: Panduan Memilih Broker Saham Terbaik 2026

Berikut kesalahan-kesalahan yang dilakukan investor dalam berinvestasi:

1. Terlalu fokus pada tren jangka pendek

Banyak investor tergoda mengikuti tren pasar, saham yang sedang viral, atau rekomendasi investasi yang ramai di media sosial. Padahal keputusan yang terlalu reaktif membuat strategi investasi menjadi tidak konsisten.
 
Kuncinya adalah tetap fokus pada tujuan finansial jangka panjang dan tidak mudah terpengaruh fluktuasi pasar.

2. Kurang diversifikasi

Menempatkan terlalu banyak dana pada satu jenis aset atau sektor dapat meningkatkan risiko portofolio secara signifikan. Diversifikasi menjaga keseimbangan antara risiko dan peluang pertumbuhan dengan menyebarkan investasi ke berbagai instrumen, seperti saham, obligasi, reksadana, deposito, hingga aset alternatif.
 
Riset klasik Brinson, Hood, dan Beebower yang banyak menjadi acuan industri wealth management menunjukkan asset allocation atau komposisi aset menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi performa portofolio jangka panjang.

3. Tidak melakukan evaluasi

Portofolio investasi perlu dievaluasi secara berkala karena kondisi pasar dan tujuan finansial dapat berubah seiring waktu. Namun banyak investor membiarkan portofolio berjalan tanpa penyesuaian. Akibatnya komposisi aset menjadi tidak seimbang, risiko meningkat tanpa disadari, atau potensi pertumbuhan menjadi kurang optimal.

4. Lambat beradaptasi terhadap perubahan pasar

Pasar investasi terus berubah, dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global, perkembangan teknologi, hingga perubahan perilaku konsumen. Investor yang terlalu bertahan pada strategi lama dan tidak update berisiko kehilangan peluang pertumbuhan.
 
Research and Markets juga mencatat perkembangan teknologi, AI-driven advisory, dan personalized portfolio management menjadi tren utama industri wealth management global beberapa tahun ke depan.

5. Mengambil keputusan berdasarkan emosi

Ketika pasar turun, investor panik dan menjual aset. Sebaliknya, saat pasar naik, investor sering terdorong untuk membeli karena fear of missing out (FOMO). Padahal keputusan emosional justru dapat menghambat pertumbuhan aset dalam jangka panjang.
 
Studi perilaku investor dari DALBAR selama bertahun-tahun menunjukkan rata-rata investor sering memperoleh hasil di bawah performa karena keputusan investasi yang dipengaruhi emosi dan timing market.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan