Ilustrasi. FOTO: Media Indonesia
Ilustrasi. FOTO: Media Indonesia

Semester I, Laba Operasional PermataBank Tumbuh 24,2%

Ekonomi bank permata
Angga Bratadharma • 15 Agustus 2020 15:57
Jakarta: PT Bank Permata Tbk (PermataBank) membukukan pertumbuhan laba operasional sebelum pencadangan sebesar 24,2 persen di semester I-2020, di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi sebagai dampak dari pandemi covid-19. Kualitas aset juga tetap terkendali dengan permodalan kuat dan likuiditas terjaga optimal.  
 
Direktur Utama PermataBank Ridha DM Wirakusumah membenaran di semester I-2020 ini PermataBank dapat tetap menjaga pertumbuhan laba operasional sebelum pencadangan, didukung dengan posisi likuiditas dan permodalan yang kuat. Bangkok Bank sebagai pemegang saham pengendali yang baru berkomitmen untuk mendukung pertumbuhan bisnis.
 
"Dalam jangka panjang, dengan sinergi bisnis yang menyeluruh baik di sektor UMKM maupun korporasi. Hal tersebut memberikan angin segar di tengah periode yang cukup berat bagi semua industri, tidak terkecuali perbankan baik di Indonesia maupun dunia," kata Ridha, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 15 Agustus 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


PermataBank mencatatkan pendapatan operasional sebelum pencadangan sebesar Rp1,7 triliun atau tumbuh 24,2 persen year-on-year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu, terutama dikontribusikan oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 12,1 persen yoy.  
 
Hal ini sejalan dengan pencapaian rasio marjin bunga atau Net Income Margin (NIM) menjadi 4,5 persen atau meningkat dari 4,2 persen di periode yang sama tahun lalu. PermataBank terus mengupayakan disiplin dalam manajemen biaya operasional, sehingga rasio efisiensi menunjukkan perbaikan.
 
"Dengan rasio Cost to Income Ratio (CIR) tercatat sebesar 58,7 persen atau terus membaik secara signifikan dibandingkan dengan posisi tahun lalu sebesar 62,8 persen," ucapnya.
 
Sejalan dengan prinsip kehati-hatian, di semester I-2020 ini PermataBank telah mengalokasikan biaya pencadangan penurunan kualitas aset yang cukup signifikan sebesar Rp1,1 triliun dengan memperhitungkan potensi peningkatan kerugian kredit sebagai akibat dari perlambatan pertumbuhan perekonomian yang berdampak pada profil risiko portofolio kredit.  
 
Sebagai akibat dari penurunan tarif Pajak Penghasilan Badan (PPh) dari 25 persen menjadi 22 persen yang berlaku efektif di Maret 2020, PermataBank juga mengakui tambahan beban pajak tangguhan yang berdampak pada penurunan laba setelah pajak.
 
Posisi likuiditas terjaga dengan baik dibuktikan dengan rasio likuiditas Loan-to-Deposit Ratio (LDR) optimum sebesar 80,7 persen di Juni 2020 dan rasio CASA sebesar 52,1 persen. Pertumbuhan tabungan dan giro sebesar 11 persen yoy menunjukkan PemataBank terus memainkan peranan penting dalam mendukung nasabah untuk mengelola operasional bisnis.
 
"Serta kebutuhan likuiditasnya dengan baik," tuturnya.
 
Dari sisi permodalan, rasio Common Equity Tier 1 (CET-1) dan Capital Adequacy Ratio (CAR) terjaga kuat pada posisi Juni 2020 masing-masing sebesar 20,2 persen dan 21,3 persen, meningkat dibandingkan dengan 18,4 persen dan 19,8 persen pada periode yang sama tahun lalu, jauh lebih tinggi dari ketentuan minimum modal yang berlaku.
 
Walaupun kemampuan keuangan debitur terpengaruh oleh dampak pandemi di semua industri, namun Non-Performing Loan (NPL) dapat dikelola dengan baik di level yang aman. Rasio NPL gross tercatat sedikit meningkat ke level 3,7 persen dibandingkan dengan Juni 2019 yang sebesar 3,6 persen dengan NPL net yang terjaga pada level 1,8 persen.
 
"PermataBank melakukan upaya berkelanjutan untuk perbaikan NPL melalui restrukturisasi kredit bermasalah, penghapusan kredit, penjualan kredit NPL, dan pertumbuhan kredit good book," pungkasnya.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif