Ilustrasi - - Foto: Antara/ Wahyu Putro
Ilustrasi - - Foto: Antara/ Wahyu Putro

Restrukturisasi kredit, Bank BUMN Butuh Suntikan Rp156 Triliun

Ekonomi kredit Himbara
Antara • 15 Mei 2020 20:55
Jakarta: Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) atau bank BUMN memproyeksi kebutuhan likuiditas sebesar Rp156 triliun akibat restrukturisasi kredit kepada debitur terdampak covid-19. Debitur mendapatkan keringanan kredit selama enam bulan baik penundaan angsuran pokok maupun subsidi bunga.
 
“Akibat penundaan pembayaran pokok, perbankan mengalami tekanan likuiditas,” kata Ketua Himbara Sunarso dalam diskusi daring Menjaga Industri Perbankan di tengah Pandemi Covid-19 di Jakarta, Jumat, 15 Mei 2020.
 
Untuk penundaan angsuran pokok selama enam bulan, proyeksi kebutuhan likuiditas mencapai Rp144 triliun dan subsidi bunga mencapai Rp12,1 triliun. Dari jumlah itu, penundaan pokok BRI mencapai Rp91 triliun dan subsidi bunga mencapai Rp5,8 triliun.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Nasabah boleh tunda pembayaran pokok tapi bank tidak boleh menunda pembayaran deposito jatuh tempo kepada deposan,” imbuhnya.
 
Meski demikian, BRI sudah mencari cara untuk mendapatkan kucuran dana mengingat besarnya kebutuhan likuiditas tersebut. BRI akan mendapat kucuran pinjaman sebesar USD1 miliar dari 13 bank asing demi menjaga likuiditas dari tekanan akibat dampak pandemi covid-19.
 
“Ternyata dalam situasi sekarang, Indonesia khususnya BRI dipercaya oleh internasional, buktinya mereka dengan mudah memberikan pinjaman ke kita,” terang dia.
 
Adapun besaran bunga dari pinjaman itu diklaim murah, yakni rata-rata di bawah dua persen. Kucuran pinjaman itu akan masuk pada Juni 2020 sehingga akan memperkuat cadangan devisa dan selanjutnya akan ditukarkan dalam bentuk rupiah.

 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif