Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri menuturkan penurunan ekspektasi penghasilan paling tajam terlihat pada kelompok pengeluaran rendah (1-2mn) dengan penurunan optimisme hingga 14,4 poin yang menjelaskan semakin khawatir kelompok ini terhadap stabilitas pendapatan termasuk juga peluang kerja.
| Baca juga: Aset Potensial untuk Hadapi Inflasi di 2026 |
“Dari hasil survey menunjukkan konsumen cenderung semakin berhati-hati dalam membelanjakan pendapatannya. Meskipun indeks pendapatan saat ini naik 1,3 poin ke level 125, peningkatan tersebut tidak sepenuhnya diterjemahkan menjadi konsumsi,” tegas dia.
Hal ini terlihat dari average propensity to consume ratio yang turun menjadi 71,6% dari 72,3%, serta debt installment to income ratio yang menurun dari 11,2% menjadi 10,6%.Sebaliknya, saving to income ratio meningkat dari 16,5% menjadi 17,7%, menandakan adanya kecenderungan rumah tangga meningkatkan buffer keuangan di tengah ketidakpastian.
Tekanan Inflasi
Tekanan inflasi menjadi salah satu factor yang mempengaruhi persepsi konsumen. Inflasi tahunan tercatat sekitar 4,76%, didorong oleh kenaikan harga pangan, energi rumah tangga, listrik, hingga kebutuhan perawatan pribadi.Tekanan ini juga membentuk kembali perilaku keuangan konsumen. Sejak awal 2026, konsumen cenderung mengalihkan pendapatan berlebih dari tabungan/deposito ke aset safe-haven seperti emas/perhiasan, mencerminkan preferensi yang berkelanjutan terhadap aset defensif di tengah tingginya ketidakpastian.
Meskipun terjadi penurunan, CCI yang terjaga di atas 100 menunjukkan bahwa sentimen konsumen Indonesia tetap solid secara fundamental. Namun, melemahnya ekspektasi memerlukan perhatian, karena konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 50% dari PDB Indonesia.
"Prioritas kebijakan penting difokuskan pada pengendalian inflasi pangan dan energi, menstabilkan harga bahan pokok di menjelang Lebaran, serta mendukung penciptaan lapangan kerja. Jika inflasi mereda dan kondisi pasar tenaga kerja membaik, kepercayaan konsumen dapat kembali meningkat, sehingga mampu menjaga konsumsi domestik sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional," tegas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News