PGN. Foto: Dok.MI
PGN. Foto: Dok.MI

Menang Sengketa Pajak Bakal Berdampak Positif pada Kinerja Keuangan PGN

Ekonomi Perusahaan Gas Negara (PGN) Ditjen Pajak Sengketa Pajak
Antara • 22 September 2021 15:14
Jakarta: Kinerja keuangan dan saham PT Perusahaan Gas Negara (PGN) dinilai akan mendapat dampak positif dan penguatan, menyusul keputusan Peninjauan Kembali (PK) Mahkamah Agung (MA) yang memenangkan PGN terkait sengketa pajak penjualan gas bumi ke konsumen.
 
"Keputusan MA ini tentunya akan berdampak positif terhadap kinerja keuangan PGN. Paling tidak dari empat perkara yang telah dimenangkan PK-nya oleh MA, PGN bisa menarik dana pencadangan sebagai pendapatan lain-lain. Sehingga laba bersihnya tahun ini akan semakin positif," ujar analis yang juga Founder & CEO Finvesol Consulting Indonesia Fendi Susiyanto, dilansir Antara, Rabu, 22 September 2021.
 
PGN diketahui kembali memenangkan perkara PK terkait sengketa pajak PPN penjualan gas bumi ke konsumen dengan Ditjen Pajak senilai USD16 juta atau sekitar Rp228,8 miliar (asumsi kurs Rp14.300 per USD). Dikutip dari laman website Mahkamah Agung, Putusan PK dengan nomor perkara 000518.16/2018/PP/M.XVIB tahun 2019 tersebut ditetapkan pada 16 September 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kemenangan PK untuk PGN ini merupakan yang keempat kalinya, setelah pada Mei 2021 PGN juga telah memenangkan PK atas tiga perkara sengketa pajak PPN penjualan gas bumi ke konsumen senilai Rp698 miliar. Dari tiga perkara pajak tersebut, dua sengketa tahun pajak 2012 dan satu sengketa untuk tahun pajak 2013.
 
Sengketa pajak yang yang telah diputuskan oleh MA ini merupakan bagian dari 24 perkara sengketa pajak PPN yang melibatkan PGN dan dirjen pajak. Dengan putusan PK atas empat perkara pajak ini, maka PGN akan dapat menarik kembali dana pajak senilai Rp926,8 miliar yang sudah dicadangkan tahun lalu sebagai pendapatan lain-lain di tahun ini.
 
"Dengan tambahan pendapatan lain-lain itu, di luar bisnis organik PGN di 2021 yang diproyeksikan tumbuh positif, secara fundamental PGN akan semakin solid. Dampaknya, juga akan positif terhadap harga saham PGN di pasar," kata Fendi.
 
Pada tiga bulan pertama 2021, PGN membukukan laba bersih sebesar USD61,57 juta atau setara dengan Rp870 miliar (kurs Rp14.147 per USD), naik 29 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar USD47,77 juta.
 
Kenaikan laba bersih didorong oleh pendapatan yang mencapai USD733,15 juta atau setara dengan Rp10,37 triliun. Dari pendapatan tersebut, PGN mencatat laba operasi sebesar USD95,90 juta dan EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) sebesar USD191,24 juta.
 
"Jika perkara sengketa pajak bisa tuntas tahun ini dan PGN menjadi pemenang seperti empat perkara terakhir, laba bersih PGN bisa semakin besar di akhir tahun. Dan pemerintah yang akan untung. Selain nilai saham PGN yang akan kembali meningkat, dengan laba bersih yang besar, sebagai pemegang saham mayoritas pemerintah lewat Pertamina bisa menarik dividen lebih besar di 2022," imbuhnya.
 
Perkara pajak PPN yang melibatkan PGN dan Ditjen Pajak ini menjadi salah satu faktor yang menjadikan bisnis perseroan tertekan. Dalam laporan keuangan konsolidasi PGN pada 2020, PGN telah melakukan provisi sengketa pajak sebesar USD294,3 juta.
 
Provisi tersebut meliputi beban atas 24 sengketa pajak PPN sebesar Rp4,15 triliun (setara dengan USD278,4 juta) dan USD15,9 juta sebagai kerugian selisih kurs. Saat ini PGN masih menantikan keputusan MA terkait dua perkara sejenis, untuk tahun pajak 2012 dan 2013.
 
(DEV)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif