Ilustrasi Inflasi medis. Foto: Medcom.id.
Ilustrasi Inflasi medis. Foto: Medcom.id.

Inflasi Medis Naik, Ini Pentingnya Proteksi Kesehatan Jangka Panjang

Arif Wicaksono • 28 Mei 2026 09:18
Jakarta: Inflasi medis menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan biaya kesehatan dalam beberapa tahun terakhir. Di Indonesia, laju kenaikan biaya medis bahkan disebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di kisaran 5 persen.
 
Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin khawatir terhadap keberlanjutan perlindungan kesehatan yang dimiliki, terutama agar biaya asuransi tetap terjangkau di tengah risiko penyakit dan biaya perawatan yang terus meningkat.
 
Baca juga:  Kinerja Ritel Menguat Berkat Faktor Musiman Ramadan–Idul Fitri, Daya Beli Rawan Tertekan Inflasi

Data World Bank menunjukkan pengeluaran kesehatan per kapita di Indonesia meningkat dari sekitar USD118 pada 2019 menjadi USD132 pada 2023. Peningkatan ini mencerminkan kebutuhan layanan kesehatan dan biaya perawatan yang terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir.
 
Tren kenaikan biaya kesehatan juga tercermin dari data Allianz Indonesia sepanjang 2020-2025. Rata-rata biaya per kasus untuk sejumlah penyakit mengalami lonjakan signifikan.
Biaya penanganan penyakit jantung meningkat hingga 219 persen, kanker naik 179 persen, stroke melonjak 169 persen, demam berdarah dengue (DBD) meningkat 183 persen, dan typhoid naik 116 persen.

Penyakit seperti stroke, jantung, dan kanker kini tidak lagi identik dengan kelompok usia lanjut. Penyakit tersebut mulai banyak ditemukan pada usia produktif dan menjadi salah satu penyebab tingginya pengeluaran biaya perawatan kesehatan.
 
Chief Product Officer Allianz Life Indonesia, Cheang Khai Au, mengatakan kenaikan biaya medis tidak hanya berdampak pada rumah sakit maupun industri kesehatan, tetapi juga memengaruhi cara masyarakat mempersiapkan perlindungan finansialnya.
 
“Di tengah inflasi medis yang terus meningkat, Kami juga mengimbau nasabah untuk rutin meninjau manfaat perlindungan yang dimiliki agar tetap mendapatkan perlindungan kesehatan yang optimal,” ujar Cheang.
 
Menurut Allianz, masyarakat perlu mulai memperhatikan sejumlah hal untuk menjaga kesiapan perlindungan kesehatan jangka panjang. Salah satunya dengan melakukan review perlindungan kesehatan secara berkala agar manfaat yang dimiliki tetap sesuai kebutuhan dan biaya medis terkini.
 
Selain itu, masyarakat juga diimbau memahami kembali cakupan perlindungan yang dimiliki, termasuk batasan manfaat dan ketentuan polis.
 
Allianz juga menyoroti pentingnya pemahaman terkait skema deductible dalam perlindungan kesehatan. Skema ini memungkinkan nasabah turut berbagi peran dalam sejumlah biaya kesehatan sehingga biaya perlindungan dapat lebih terukur dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
 
Masyarakat juga disarankan tidak terburu-buru menghentikan perlindungan kesehatan tanpa perencanaan matang karena berpotensi menimbulkan risiko finansial di kemudian hari.
Selain itu, pergantian polis ke perusahaan asuransi baru juga perlu dipertimbangkan secara matang karena dapat membuat nasabah kembali menjalani masa tunggu untuk manfaat perlindungan tertentu.
 
Cheang menegaskan perlindungan kesehatan kini bukan lagi sekadar kebutuhan tambahan, melainkan bagian penting dari perencanaan finansial jangka panjang keluarga.
 
“Kami percaya perlindungan kesehatan bukan lagi sekadar kebutuhan tambahan, melainkan bagian penting dari kesiapan finansial jangka panjang. Karena itu, dengan memahami manfaat perlindungan yang dimiliki, masyarakat bisa menjaga perlindungan tetap sustainable dan benar-benar mendukung kebutuhan jangka panjangnya,” tegas dia.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan