Ilustrasi. Foto: MI
Ilustrasi. Foto: MI

Pasar Saham Tertekan, IHSG Dibayangi Gejolak Global

Annisa ayu artanti • 21 Januari 2026 09:45
Jakarta: Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di zona merah pada perdagangan Rabu pagi.
 
Pelemahan terjadi di tengah kondisi ekonomi domestik yang relatif stabil, namun dibayangi meningkatnya tekanan dan ketidakpastian dari faktor global.
 
Melansir Antara, Rabu, 21 Januari 2026, IHSG dibuka turun 40,27 poin atau 0,44 persen ke level 9.094,43. Sejalan dengan itu, indeks saham unggulan LQ45 melemah 8,44 poin atau 0,95 persen ke posisi 875,94.

Kombinasi sentimen domestik dan risiko eksternal

Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas menilai pergerakan pasar saham Indonesia hari ini berpotensi berlangsung volatil, seiring tarik-menarik antara stabilitas domestik dan meningkatnya risiko eksternal.

“Kombinasi sentimen domestik yang relatif stabil dan risiko eksternal yang meningkat seperti ancaman tarif Trump terhadap negara-negara Eropa, tekanan di pasar obligasi global, serta volatilitas pasar saham AS, membuat pasar Indonesia hari ini berpotensi bergerak volatil, dengan arus modal asing dan respons pasar terhadap keputusan BI menjadi kunci arah pergerakan,” sebut Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.
 
Baca juga: Berbeda Arah dengan Bursa Dunia, IHSG Dibuka Menguat

Pasar menanti keputusan BI

Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan hari ini. Keputusan suku bunga menjadi sorotan utama, terutama di tengah nilai tukar Rupiah yang masih berada di level terlemah sepanjang sejarah.
 
Konsensus pasar memproyeksikan Bank Indonesia akan menahan BI-Rate di level 4,75 persen, sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mempertahankan daya tarik aset berbasis Rupiah.

Bursa global kompak melemah

Dari luar negeri, sentimen negatif datang dari pelemahan bursa saham Amerika Serikat dan Eropa pada perdagangan Selasa, 20 Januari 2026. Tekanan pasar dipicu meningkatnya retorika Presiden AS Donald Trump terkait Greenland, termasuk ancaman tarif bertahap 10-25 persen terhadap delapan negara NATO, tarif 200 persen untuk anggur Prancis, serta kecaman terhadap Inggris.
 
​Situasi tersebut memicu lonjakan volatilitas di pasar saham global dan memperburuk sentimen investor.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan