Baca juga: IHSG Hari Ini Turun 1,33%, Investor Waspadai Konflik AS-Iran dan CPI AS |
Mengutip data Investing pada pukul 09.44 WIB, IHSG turun 80,23 poin atau 1,23% ke level 6.461,15. Tekanan tersebut terjadi di tengah aksi jual yang cukup kuat di pasar saham domestik.
Pelemahan IHSG tercatat lebih dalam dibandingkan sejumlah indeks saham utama di kawasan Asia. Pada saat yang sama, sebagian bursa regional juga bergerak di zona merah, meski dengan koreksi yang relatif terbatas.
Indeks Nikkei 225 Jepang tercatat turun 0,71%, sedangkan indeks SET Thailand melemah 0,65%. Selanjutnya, indeks VNI Vietnam terkoreksi 0,35% dan Hang Seng Hong Kong turun 0,17%.
Sementara itu, sejumlah bursa Asia lainnya masih mampu bergerak positif. Indeks KLCI Malaysia menguat 0,22% ke level 1.690,48. Shanghai Composite Tiongkok naik 0,10% ke 3.891,86, sedangkan PSEi Filipina menguat tipis 0,08% ke level 6.066,96.
Rupiah dan Sentimen Risk-Off
Tekanan terhadap IHSG terjadi seiring dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut turut meningkatkan kewaspadaan pelaku pasar terhadap prospek pasar keuangan domestik.Investor juga mencermati sejumlah agenda dan data makroekonomi yang akan dirilis pada pekan ini. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar cenderung mengambil sikap hati-hati atau risk-off.
Di tengah tekanan tersebut, level 6.450 menjadi perhatian pelaku pasar. Investor akan mencermati apakah level tersebut mampu menjadi area penahan atau support bagi IHSG hingga perdagangan sesi pertama berakhir.
Jika tekanan jual berlanjut, pergerakan IHSG pada sesi berikutnya akan menjadi perhatian, terutama untuk melihat apakah indeks mampu bertahan di atas level psikologis tersebut.
Sementara itu Kepala Ekonom Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menuturkan dari panggung global, sentimen pasar mulai menunjukkan perbaikan bertahap. Hal ini ditopang oleh rebound di bursa saham Wall Street serta harga minyak mentah Brent yang melandai ke kisaran USD105 per barel.
Meski begitu, tekanan eksternal belum sepenuhnya reda. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun (US Treasury 10-year) masih bertahan mendekati level 5 persen. Selain itu, ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve (The Fed) pada pekan ini masih terbilang tinggi.
Di pasar domestik, transmisi volatilitas global terpantau masih cukup terkendali. Nilai tukar rupiah bertahan di kisaran level Rp17.600 per dolar AS, sementara tingginya permintaan domestik terhadap Surat Berharga Negara (SBN) mampu menjadi bantalan (buffer) penahan guncangan pasar keuangan.
Bank Indonesia (BI) juga terus mengoptimalkan instrumen moneter secara hati-hati. Dalam lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada Jumat lalu, bank sentral hanya menyerap Rp10 triliun dari total penawaran masuk (incoming bids) yang menembus Rp30,5 triliun. Langkah ini turut diimbangi dengan suntikan likuiditas (liquidity injection) melalui fasilitas repo.
"Kondisi ini mengindikasikan pengelolaan likuiditas yang lebih terukur oleh BI, bukan sekadar penyerapan likuiditas secara agresif (aggressive absorption)," jelas Rully.
Memasuki perdagangan pekan ini, fokus utama pelaku pasar tertuju pada pertemuan komite pasar terbuka The Fed (FOMC). Mengingat potensi kenaikan suku bunga sebagian besar telah diantisipasi pasar (priced-in), petunjuk arah kebijakan ke depan (forward guidance) serta proyeksi batas puncak suku bunga (terminal rate) akan menjadi penentu utama pergerakan pasar ke depan.