Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di bawah tekanan. Mengawai perdagangan akhir pekan, IHSG dibuka melemah 36,55 poin atau 0,55 persen ke posisi 6.552,79. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 3,28 poin atau 0,50 persen ke posisi 652,70.
Pada penutupan perdagangan kemarin, IHSG juga ditutup melemah 1,33 persen ke level 6.589,34. Tekanan terutama datang dari sentimen global, khususnya memanasnya konflik AS–Iran yang kembali mendorong harga minyak hingga sekitar USD100 per barel, sehingga meningkatkan kekhawatiran inflasi dan mempersempit ruang pelonggaran moneter.
Di sisi lain, kenaikan yield US Treasury, dengan yield 10 tahun mencapai sekitar 4,84 persen, juga menjadi tekanan bagi aset berisiko dan emerging market seperti Indonesia.
Dari domestik, retail sales Juli tumbuh 1,1 persen year on year (YoY) setelah tiga bulan sebelumnya mengalami kontraksi, menunjukkan konsumsi mulai membaik. Namun, sentimen global masih lebih dominan menekan pergerakan IHSG hari ini.
Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas mengatakan pergerakan IHSG hari ini masih volatile dengan bias melemah di tengah risiko eskalasi AS-Iran dan kenaikan minyak.
"Secara teknikal, selama belum reclaim 6.600, IHSG berisiko turun ke 6.475-6.375, dengan 6.600-6.700 sebagai resistance," kata tim riset.
Tim riset juga menjelaskan, katalis utama adalah US CPI Agustus (11 Sep). CPI di atas konsensus (headline 3,4 persen; core 2,4 persen YoY) berisiko memperkuat ekspektasi Fed hawkish, sementara CPI lebih rendah dapat membuka ruang technical rebound.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan