Foto: Grafis Medcom.id
Foto: Grafis Medcom.id

Stabilitas Perbankan Perlu Dijaga

Ekonomi perbankan bpk
Ade Hapsari Lestarini • 14 Mei 2020 11:19
Jakarta: Perbankan menjadi jantung perekonomian bangsa di masa pandemi covid-19 ini. Semua pihak pun diimbau menjaga stabilitas perbankan serta berharap covid-19 ini tidak menyerang bank lebih cepat karena komentar tidak jelas.
 
"Persoalan flight to quality ini sedang menunggu momentum untuk bergerak. Siklus krisis covid-19, krisis keuangan, krisis sosial, dan terakhir krisis politik. Kita semua harus menjaga agar tidak sampai masuk ke krisis keuangan. Jika toh harus kena, tapi tidak seperti menghancurkan seperti 1998 lalu," ujar pengamat ekonomi dan perbankan Eko B Supriyanto, Kamis, 14 Mei 2020.
 
Diamengakui krisis kali ini berbeda dengan krisis-krisis sebelumnya. Namun demikian, dia menuturkan perilaku pemilik uang tetap sama.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Nasabah memilih bank dengan risiko lebih kecil. Hukum itu berlangsung ketika krisis 1997/1998 lalu, dan 2008. Hal ini, bukan tak mungkin bisa terulang di 2020 jika tidak menjaga suasana confidence di industri perbankan. Situasi memang belum krisis, tapi krisis bisa dipicu dari sini," jelasnya.
 
Dirinya punmenyayangkan pernyataan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Agung Firman Sampurna yang mengumumkan nama tujuh bank yang tidak diawasi dengan baik oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
 
Baca: BPK Kritik Pengawasan OJK ke Perbankan
 
"Semua pihak setidaknya harus menjaga agar tidak sembarangan dalam memberi komentar 'miring' mengenai bank. Jangan sampai penyataan disalahpersepsikan oleh publik. Hak BPK mengumumkan hasil itu, namun harusnya tidak memberi highlight nama tujuh bank yang bisa menimbulkan persepsi berbeda di masyarakat. Apalagi, hasil audit itu tidak terjadi pada 2020. Past performance yang situasi dan kondisinya berubah," ujar Eko dalam keterangannya.
 
Menurut dia, sebuah bank berbeda dengan rumah sakit, atau perusahaan di sektor riil. Pasalnya, kepanikan pada satu bank akan menimbulkan kepanikan pada bank lain. "Pertanyaan yang selalu muncul, bank-bank mana lagi? Tapi, menurut pengalaman krisis 1998 dan 2008, selalu ada yang namanya flight to quality, dana berpindah ke tempat yang dinilai lebih aman," katanya.
 
Dia menuturkan, efek pengungkapan nama-nama bank ke publik akan membuat nasabah gelisah, meski kondisi bank-bank yang disebut BPK itu sudah berbeda dari temuan BPK antara 2017-2019.
 
"Bisa jadi bank-bank itu tidak seperti yang digambarkan dari temuan BPK. Persepsi publik inilah yang harus dijaga, karena begitu BPK mengumumkan ketujuh bank tersebut terkait pengawasan OJK, sontak industri perbankan seperti tersulut api. Bisik-bisik pun muncul ke grup-grup WhatsApp. Para direksi bank yang disebut sibuk menjawab pertanyaan nasabah, dan juga media," tegasnya.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif