Ilustrasi. Foto: dok MI.
Ilustrasi. Foto: dok MI.

Gawat! Rupiah Dikit Lagi Sentuh Rp15.500/USD Nih

Husen Miftahudin • 17 Oktober 2022 10:11
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan awal pekan ini kembali mengalami pelemahan, setelah dalam beberapa pekan terus-terusan tergilas.
 
Mengutip data Bloomberg, Senin, 17 Oktober 2022, nilai tukar rupiah terhadap USD berada di level Rp15.468 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 41 poin atau setara 0,27 persen dari posisi Rp15.427 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
 
Adapun rentang gerak rupiah berada di kisaran Rp15.460 per USD hingga Rp15.474 per USD. Sementara year to date (ytd) return terpantau sebesar 8,45 persen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak secara fluktuatif. Namun mata uang Garuda pada penutupan perdagangan hari ini diperkirakan masih melemah.
 
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp15.410 per USD hingga Rp15.460 per USD," jelasnya.
 
Menurutnya, pelemahan ini didorong oleh sentimen laporan inflasi AS yang lebih panas dari perkiraan lantaran beberapa investor menganggap respons awal pasar terhadap data itu berlebihan.
 
Baca juga: Tren Suku Bunga Ketat Terjadi di Berbagai Negara

 
Indeks Harga Konsumen naik 0,4 persen bulan lalu setelah naik 0,1 persen pada Agustus. Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan CPI naik 0,2 persen. Dalam 12 bulan hingga September, CPI meningkat 8,2 persen setelah naik 8,3 persen pada Agustus, memperkuat ekspektasi Fed akan memberikan kenaikan suku bunga 75 basis poin (bps).
 
"Situasi yang mencekam dunia saat ini sedang menghadapi risiko yang makin meningkat, inflasi yang tinggi, pertumbuhan upah, kerawanan energi dan pangan, risiko iklim, dan fragmentasi geopolitik," ungkapnya.
 
Perang di Ukraina juga terus memperburuk keamanan pangan global dan krisis gizi dengan harga energi, makanan, dan pupuk yang tinggi dan tidak stabil; kebijakan perdagangan yang membatasi dan gangguan rantai pasokan.
 
"Kemudian pengetatan kebijakan moneter global yang lebih cepat dari yang diantisipasi, dan ini juga menciptakan ancaman bagi pemulihan ekonomi. Saya prediksi, situasi global akan tetap sulit di 2022 dan mungkin dapat meluas hingga 2023," pungkas Ibrahim.

 
(HUS)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif