Ilustrasi - - Foto: Medcom
Ilustrasi - - Foto: Medcom

Pengamat: Aturan Pembagian Aset Reksa Dana Minna Padi Sudah Jelas

Ekonomi OJK reksa dana jasa keuangan Minna Padi Aset Manajemen
Husen Miftahudin • 22 September 2020 22:35
Jakarta: Nasabah PT Minna Padi Aset Manajemen (MPAM) masih terus berupaya mendapatkan sisa hasil investasinya di enam produk reksa dana MPAM yang telah dilikuidasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 25 November 2019 lalu.
 
Setelah pembagian hasil likuidasi tahap I pada Maret lalu, nasabah enam produk reksa dana MPAM yang telah menyepakati skema pembagian hasil likuidasi reksa dana dalam bentuk efek (In Kind) belum memperoleh seluruh aset investasi yang menjadi haknya.
 
Pekan lalu, para nasabah enam produk reksa dana MPAM yang menyepakati mekanisme In Kind telah mengirimkan surat terbuka kepada OJK. Mereka meminta OJK membantu menyelesaikan persoalan pembagian hasil likuidasi. Sebab, pembagian hasil likuidasi dalam bentuk efek saat ini masih terkendala oleh kesepakatan dengan pihak bank kustodian.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Melihat kondisi tersebut, pengamat pasar modal Hans Kwee menilai aturan pembagian investasi atas reksa dana yang dilikuidasi sebetulnya sudah jelas. Apalagi berdasarkan informasi dari MPAM, OJK telah menyerahkan pelaksanaan pembagian likuidasi enam reksa dana MPAM kepada para nasabah, MPAM, maupun bank kustodian.
 
"Para pihak terkait tidak perlu menunggu arahan dari OJK untuk membagikan hasil likuidasi dalam bentuk In Kind. Ikuti saja undang-undang dan peraturan OJK yang ada," tegas Hans dalam keterangan tertulis yang diterimaMedcom.id, Selasa, 22 September 2020.
 
Namun jika para pihak seperti bank kustodian menemui kendala dalam pelaksanaan pembagian hasil likuidasi dalam bentuk In Kind, Hans menyarankan agar pihak tersebut tidak perlu ragu untuk meminta arahan dari OJK. Sebab permintaan petunjuk dari OJK ini merupakan hal yang wajar di industri pasar modal.
 
Menurut Hans, penyelesaian pembagian investasi dalam bentuk efek atau In Kind atas reksa dana yang dilikuidasi sebenarnya memang tidak semudah pembagian hasil likuidasi dalam bentuk dana tunai atau In Cash. Jika hasil likuidasi reksa dana dibagikan dalam bentuk tunai, manajer investasi hanya perlu menjual saham maupun efek yang menjadi aset reksa dana tersebut. Dana hasil penjualan lalu dibagikan kepada nasabah secara pro rata.
 
Namun dalam kasus likuidasi enam reksa dana besutan MPAM, manajer investasi sebelumnya mengalami kesulitan untuk menjual portofolio efek yang menjadi aset reksa dana yang dilikuidasi. Berdasarkan kesepakatan antara MPAM dengan nasabah, sisa hasil investasi dibagikan dalam bentuk tunai (In Cash) dan dalam bentuk efek (In Kind). "Ini solusi paling realistis," tutur Hans.
 
Masalahnya, sebut dia, mekanisme pembagian aset investasi dalam bentuk In Kind tidak gampang. Nasabah, misalnya, harus membuka rekening efek terlebih dahulu. Setelah itu barulah efek yang menjadi aset reksa dana ditransfer ke rekening efek nasabah.
 
Selain itu, nasabah bisa jadi memperoleh saham hanya sedikit hingga jumlahnya yang tidak genap satu lot alias odd lot. Agar kasus likuidasi reksa dana MPAM tidak terulang, Hans mengingatkan para investor untuk memahami bahwa dalam setiap investasi tidak selalu bisa meraup untung, tapi juga memiliki risiko. "Investor harus paham bahwa reksa dana merupakan produk investasi yang mengandung risiko," tutup Hans.
 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif