Bank Indonesia (BI) memperkirakan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) pada kuartal I-2020 bakal rendah. Foto: Dok.MI
Bank Indonesia (BI) memperkirakan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) pada kuartal I-2020 bakal rendah. Foto: Dok.MI

BI Perkirakan Defisit Transaksi Berjalan di Bawah 1,5%

Ekonomi bank indonesia defisit transaksi berjalan
Husen Miftahudin • 14 April 2020 18:46
Jakarta: Bank Indonesia (BI) memperkirakan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) pada kuartal I-2020 bakal rendah. Defisit transaksi berjalan pada periode tersebut akan lebih rendah dari 1,5 persen produk domestik bruto (PDB).
 
"Secara keseluruhan, defisit transaksi berjalan di kuartal I-2020 diperkirakan akan lebih rendah dari 1,5 persen PDB," ungkap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam telekonferensi di Jakarta, Selasa, 14 April 2020.
 
Perry menjelaskan, neraca perdagangan diperkirakan membaik dipengaruhi oleh penurunan impor yang lebih tinggi akibat menurunnya permintaan domestik dan berkurangnya kebutuhan input produksi untuk kegiatan ekspor. Namun, ekspor juga bakal mengalami penurunan sejalan dengan merosotnya permintaan dan harga komoditas dunia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Defisit neraca jasa juga diperkirakan lebih rendah, didorong oleh penurunan devisa untuk biaya transportasi impor serta penurunan devisa pariwisata yang tidak setinggi yang diperkirakan. Defisit neraca pendapatan primer pun menurun sejalan dengan berkurangnya penurunan kepemilikan asing pada instrumen keuangan domestik.
 
Sementara itu, aliran modal asing diperkirakan akan berangsur-angsur kembali masuk ke Indonesia sejalan dengan meredanya kepanikan pasar keuangan global dan membaiknya ekonomi domestik. Secara keseluruhan, prospek Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) 2020 yang tetap baik dapat memperkuat ketahanan sektor eksternal Indonesia.
 
Adapun posisi cadangan devisa pada akhir Maret 2020 sebesar USD121,0 miliar atau setara dengan pembiayaan 7,2 bulan impor atau 7,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, dan diperkirakan akan meningkat pada akhir April 2020.
 
"Bank Indonesia berpandangan posisi cadangan devisa tersebut lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebutuhan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah," urai Perry.
 
Secara keseluruhan tahun ini, Perry sebelumnya mempertahankan proyeksi defisit transaksi berjalan di level 2,5 persen hingga tiga persen meski ekonomi Indonesia tengah digempur habis-habisan covid-19.
 
"Defisit transaksi berjalan tahun ini perkiraan kami bahkan setelah mempertimbangkan dampak dari covid-19 itu masih terjaga, terkendali pada tingkat 2,5 persen hingga tiga persen PDB (Produk Domestik Bruto)," tutur Perry di Jakarta, belum lama ini.
 
Perry memastikan proyeksi defisit transaksi berjalan tersebut sudah memperhitungkan dampak covid-19 terhadap devisa pariwisata atau travel. Covid-19 memang berdampak besar bagi industri pariwisata Tanah Air sehingga devisa di sektor ini melempem. Namun, penggunaan devisa untuk perjalanan ke luar negeri seperti umrah juga mengalami tekanan cukup dalam.
 
"Secara netto-nya dari devisa travel itu memang masih menurun, tapi penurunan impor masih lebih tinggi sehingga kenapa 2,5 persen hingga tiga persen perkiraan CAD ini masih kami yakini akan terkendali pada 2020," tutup Perry.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif