Foto: Grafis Medcom.id
Foto: Grafis Medcom.id

Pembeli Domestik Obligasi Pemerintah Diperkirakan di Urutan Terdepan

Ekonomi obligasi
Angga Bratadharma • 25 Juli 2020 12:18
Jakarta: Perkembangan kasus infeksi covid-19 di Indonesia masih belum stabil, dengan jumlah penderita tertinggi di antara kelompok ASEAN-6. Untuk membentengi diri dari risiko perlambatan ekonomi, Kementerian Keuangan menguraikan sejumlah langkah fiskal guna mengimbangi dampak wabah itu pada paruh pertama 2020.
 
Untuk mendukung program stimulus, defisit anggaran 2020 diubah menjadi lebih besar, menjadi minus 6,3 persen (Rp1.039 triliun) dari PDB dibandingkan dengan minus 1,8 persen yang dianggarkan diawal tahun. Itu dengan mengasumsikan kemungkinan kekurangan pendapatan sebesar 2,4 persen dari PDB dan peningkatan pengeluaran minus 2,1 persen (menjadi 16,7 persen), di luar program pendanaan biaya operasional, bunga dan pajak investasi.
 
Defisit yang lebih besar menyiratkan kebutuhan pembiayaan lebih tinggi. Pemerintah telah menyampaikan pandangan mereka tentang cara yang tersedia untuk mengatasi defisit 2020 yakni utang dalam negeri, pembiayaan pinjaman dan pinjaman luar negeri (pinjaman lembaga multilateral, obligasi yang diterbitkan dalam mata uang yang diterima secara luas, dan lain-lain).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Penerbitan obligasi dalam negeri rupiah bruto kemungkinan meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi Rp1,6 kuadriliun. Pasokan obligasi, tertinggi selama ini, juga akan membutuhkan dukungan permintaan memadai.
 
"Kami memperkirakan pembeli domestik tetap berada di urutan terdepan, dipimpin oleh bank dan bank sentral, untuk mengimbangi investor asing," kata Economist DBS Group Research Radhika Rao, seperti dikutip dari risetnya yang diterima Medcom.id, Sabtu, 25 Juli 2020.
 
Dalam hal ini, terlepas dari kehadiran tidak tetap Bank Indonesia di pasar primer dan sekunder, pemerintah dan bank sentral telah membahas cara untuk menyerap tambahan penerbitan obligasi tanpa mengganggu pasar utang dalam negeri.
 
Di sisi lain, pengaturan antara BI dan pemerintah mengenai pembelian obligasi telah diselesaikan bulan ini. Bank Indonesia dijadwalkan mendanai lebih dari 60 persen program stimulus, meliputi menyerap Rp398 triliun melalui penempatan dana swasta satu kali di bank sentral (pada tingkat suku bunga acuan tiga bulan), pembiayaan untuk perawatan kesehatan, dukungan untuk pemerintah daerah, jaminan sosial, dan lain-lain; biaya bunga akan ditanggung oleh BI.
 
Kemudian tahap selanjutnya adalah dukungan untuk UKM dan non-UKM, di mana bank sentral akan menjadi penawar tidak kompetitif, dengan biaya dibatasi. Lalu, sisa Rp329 triliun akan disalurkan melalui lelang langsung, dibiayai oleh pemerintah dengan harga pasar.
 
Selanjutnya, kehadiran investor asing juga merupakan kunci dalam penyerapan obligasi, tetapi minat terhadap obligasi tidak menentu tahun ini -arus keluar tajam pada triwulan pertama 2020 diikuti oleh arus masuk bersih pada April hingga Juni. Pada Juni 2020, kepemilikan investor asing dalam obligasi rupiah turun hingga 30 persen dibandingkan dengan 38,6 persen pada Desember 2019.
 
Sementara itu, stabilitas rupiah diperkirakan kembali menarik para investor, dengan para pemain domestik kemungkinan memperbaiki situasi pada periode tersebut. Dengan imbal hasil termasuk tertinggi di kawasan ini, surat berharga komersial menarik dari perspektif kepemilikan jangka menengah dan jangka panjang.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif