Ilustrasi. Foto: AFP/Bay Ismoyo.
Ilustrasi. Foto: AFP/Bay Ismoyo.

Ini Penyebab Kuatnya Rupiah Bisa Bikin Dolar Bertekuk Lutut

Husen Miftahudin • 18 Juli 2022 18:29
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini kembali menguat. Mengutip Bloomberg, rupiah berada di level Rp14.981 per USD menguat 15 poin atau setara 0,10 persen dari posisi Rp14.996 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
 
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan mata uang Garuda utamanya disebabkan oleh ekspektasi investor terhadap kenaikan suku bunga yang agresif dari Federal Reserve AS di samping data penjualan ritel inti AS yang kuat. Meskipun kekhawatiran tentang pasokan gas Eropa membatasi penjualan dolar.
 
Investor juga mengawasi inflasi AS dan kemungkinan resesi yang disebabkan oleh pengetatan moneter. Ekspektasi Inflasi 5 Tahun Michigan Amerika Serikat turun menjadi 2,8 persen untuk Juli dari 3,1 persen pada Juni.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Pejabat Fed mengisyaratkan mereka akan tetap pada kenaikan suku bunga 75 bps selama pertemuan mereka pada 26-27 Juli untuk menurunkan inflasi," ungkap Ibrahim dikutip dari analisis hariannya, Senin, 18 Juli 2022.
 
Dijelaskan lebih lanjut, pipa Nord Stream 1 sebagai pipa terbesar yang membawa gas alam Rusia ke Jerman, memulai pemeliharaan tahunannya pada 11 Juli yang menjadi 10 hari terakhir. Pasar khawatir penutupan dapat diperpanjang karena perang di Ukraina. Kehilangan gas akan melanda Jerman, ekonomi terbesar keempat di dunia.
 
Di Asia-Pasifik, Tiongkok melaporkan 691 berita kasus covid-19 atau naik dari 547 pada hari sebelumnya, yang menambah kekhawatiran pasar tentang jalur pemulihan ekonominya. Bank sentral Tiongkok akan bertemu pada hari Rabu, sementara Bank of Japan bertemu pada Kamis.
 
"Di tempat lain, Bank Sentral Eropa diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 bps pada pertemuan kebijakannya akhir pekan ini," urai dia.
 
Baca juga: Mantap! Rupiah Ditutup Menguat ke Rp14.981/USD

 
Di dalam negeri, Ibrahim memandang kondisi ekonomi Indonesia masih aman di tengah risiko ketidakpastian dan ancaman resesi ekonomi global. Untuk inflasi sendiri, Indonesia menyentuh angka 4,35 persen pada Juni 2022 dan merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.
 
"Namun, penyebabnya justru bukan karena faktor global tapi lebih pada ketersediaan pangan dalam negeri terutama cabai, telur, dan bawang merah," sebut Ibrahim.
 
Pemerintah dan Bank Indonesia pun mengantisipasi adanya arus modal keluar dari Indonesia. Ia mengatakan, saat ini The Fed sedang menaikkan suku bunga acuannya, dan kebijakan ini akan melemahkan mata uang rupiah saat terjadinya impor. Karena saat ini 60 persen bahan baku industri berasal dari impor.
 
Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Senin depan akan bergerak secara fluktuatif. Meski memang mata uang Garuda tersebut diprediksi ditutup masih melemah.
 
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp14.960 per USD hingga Rp15.010 per USD," tutup Ibrahim.
 
(HUS)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif