Ilustrasi. Foto: dok MI/Pius Erlangga.
Ilustrasi. Foto: dok MI/Pius Erlangga.

Waduh! Rupiah Terperosok Dekati Level Rp15 Ribu di Rabu Pagi

Husen Miftahudin • 07 September 2022 09:41
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami pelemahan.
 
Mengutip data Bloomberg, Rabu, 7 September 2022, nilai tukar rupiah terhadap USD berada di level Rp14.931 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah sebanyak 46,5 poin atau setara 0,31 persen dari posisi Rp14.885 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
 
Adapun rentang gerak rupiah berada di kisaran Rp14.912 per USD hingga Rp14.935 per USD. Sementara year to date (ytd) return terpantau sebesar 4,69 persen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Data Yahoo Finance juga menunjukkan rupiah berada pada tren pelemahan. Rupiah bertengger di posisi Rp14.928 per USD, melemah 40 poin atau 0,26 persen dari Rp14.885 per USD.
 
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak secara fluktuatif. Meski memang mata uang Garuda tersebut diprediksi ditutup masih melemah.
 
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp14.870 per USD hingga Rp14.910 per USD," jelasnya.
 
Hal ini didorong oleh sentimen para pedagang yang menunggu rincian lebih lanjut tentang jalur kebijakan moneter AS. Tetapi ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh Federal Reserve akhir bulan, dengan data pasar tenaga kerja yang solid memberikan para pembuat kebijakan lisensi yang lebih besar untuk mencoba dan mengendalikan inflasi pada level tertinggi 40 tahun.
 
"Pasar berjangka telah memperkirakan peluang lebih dari 50 persen The Fed akan menaikkan 75 basis poin pada pertemuan kebijakan September," paparnya.
 
Baca juga: Dolar AS Perkasa, Euro Tak Bertenaga

 
Di sisi lain, Rusia menutup pipa gas utama ke Eropa, menempatkan benua itu pada risiko krisis energi besar. Krisis diperkirakan akan sangat berdampak pada pertumbuhan ekonomi di zona euro.
 
Menurutnya, fokus sekarang adalah pada pertemuan Bank Sentral Eropa akhir pekan ini, dimana bank secara luas diperkirakan akan mulai menaikkan suku bunga mengingat inflasi dengan cepat mendekati dua digit di Zona Euro.
 
"Pejabat Pemerintah Tiongkok mengatakan negara itu kemungkinan akan meningkatkan langkah langkah-langkah stimulus pada kuartal ketiga, setelah ekonomi hampir tidak berkembang pada kuartal kedua. Ekonomi terbesar kedua di dunia itu menghadapi tantangan berat dari penguncian covid-19 yang diberlakukan tahun ini, serta potensi krisis energi," pungkas Ibrahim.

 
(HUS)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif