Konferensi South East Asian Central Banks (SEACEN) di Bali. Foto: Bank Indonesia
Konferensi South East Asian Central Banks (SEACEN) di Bali. Foto: Bank Indonesia

AI Makin Masuk ke Dunia Keuangan, Ini 3 Prioritas Bank Sentral Asia Tenggara

Annisa ayu artanti • 07 Oktober 2026 11:27
Ringkasnya gini..
  • Bank sentral Asia Tenggara memperkuat kerja sama untuk menghadapi tantangan AI terhadap sistem keuangan.
  • BI menyebut ada tiga prioritas di era AI, termasuk tata kelola, sistem pembayaran, dan kolaborasi regional.
  • Risiko ketergantungan pada platform AI dan keamanan sistem pembayaran menjadi perhatian dalam forum SEACEN.
Jakarta: Kecerdasan artifisial (AI) bukan lagi sekadar teknologi yang bikin pekerjaan lebih cepat. Bagi bank sentral, perkembangan AI mulai menyentuh hal yang jauh lebih besar seperti stabilitas sistem keuangan, keamanan pembayaran, sampai inklusi keuangan.

Karena itu, bank sentral negara-negara di kawasan Asia Tenggara memperkuat kerja sama untuk menghadapi perubahan yang dibawa AI.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Ricky P. Gozali mengatakan tantangan AI tidak bisa dihadapi oleh satu negara saja. Hal itu disampaikannya dalam pembukaan konferensi South East Asian Central Banks (SEACEN) di Bali, 5 Oktober 2026.

“AI menghadirkan tantangan yang perlu dihadapi secara bersama oleh berbagai negara," ujar Ricky dikutip dari siaran pers, Rabu, 7 Oktober 2026.

Tiga Prioritas Bank Sentral di Era AI

Untuk merespons perkembangan tersebut, Ricky menekankan tiga prioritas bank sentral di era AI. Pertama, membangun tata kelola AI yang terpercaya, transparan, dan akuntabel. Kedua, memanfaatkan AI untuk ekosistem pembayaran yang lebih efisien, aman, inklusif, dan berdaya tahan. Ketiga, memperkuat kolaborasi regional melalui SEACEN, antara lain dengan dialog kebijakan, pengembangan kapasitas, dan riset bersama.
 

"AI menghadirkan tantangan yang tidak dapat dihadapi satu negara sendiri. Melalui kolaborasi di kawasan, seperti SEACEN, kita dapat mengembangkan pendekatan bersama yang mendorong inovasi sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan," tegas Ricky.

Bank Sentral Diminta Tak Ketinggalan Perkembangan AI

Ricky juga menekankan pentingnya pembelajaran dan pengalaman bersama dalam menghadapi perkembangan teknologi yang semakin cepat. 
“Seiring dengan semakin cepatnya transformasi teknologi, pengetahuan dan pengalaman bersama akan semakin berharga dalam membentuk masa depan bank sentral," tutur Ricky.

Sementara itu, Direktur Eksekutif The SEACEN Centre, Cynyoung Park, menyoroti pentingnya interoperabilitas sistem pembayaran lintas negara dalam mendukung integrasi ekonomi kawasan. 

Menurutnya, keterhubungan antarsistem perlu ditopang standar dan pengaturan yang kompatibel, serta kerangka pengelolaan likuiditas dan risiko penyelesaian transaksi yang jelas. Penguatan fondasi tersebut akan mendukung perluasan konektivitas pembayaran untuk perdagangan dan investasi regional.

Di sisi lain, Kepala Ekonom United Nations Development Programme (UNDP) untuk Asia dan Pasifik, Philip Schellekens, menekankan pentingnya kepercayaan sebagai fondasi peran bank sentral di tengah perkembangan AI. Menurutnya, bank sentral perlu memahami perubahan yang ditimbulkan AI terhadap perekonomian dan teknologi, serta mengantisipasi risiko sistemik dari ketergantungan pada penyedia platform AI tertentu. 
Kepercayaan menjadi fondasi utama bank sentral dalam menjaga stabilitas dan memastikan pemanfaatan AI memberikan manfaat yang lebih luas bagi perekonomian.

Konferensi yang mengangkat tema "Central Banking in the Age of Artificial Intelligence: Payments, Regulation, and Financial Stability for a Connected Asia" mempertemukan berbagai perspektif mengenai perkembangan AI dan implikasinya terhadap kebijakan bank sentral. 
Sesi diskusi panel menghadirkan narasumber dari European Central Bank, Bank of Korea, Hong Kong Monetary Authority, Banque de France, Asian Development Bank Institute, University of Tokyo, Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial (KORIKA), dan Bank Rakyat Indonesia.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan 25th SEACEN Executive Committee (EXCO) Meeting pada 6 Oktober 2026 yang dipimpin Ricky. Pertemuan membahas penguatan tata kelola dan kelembagaan SEACEN sebagai pusat pembelajaran dan kolaborasi bank sentral di kawasan. 
"Penguatan tata kelola, efektivitas organisasi, dan akuntabilitas menjadi landasan penting agar kolaborasi melalui SEACEN terus memberikan nilai tambah bagi anggotanya," tutur Ricky.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan