Pelemahan juga terjadi pada kelompok 45 saham unggulan. Indeks LQ45 turun 2,09 poin atau 0,35 persen ke posisi 599,09.
Pergerakan IHSG pada awal bulan ini berlangsung setelah indeks mengakhiri perdagangan September dengan tekanan cukup kuat.
Pada Rabu, 30 September 2026, IHSG ditutup melemah sekitar 0,83 persen ke area 6.071. Aksi jual investor asing juga masih membayangi pasar.
IHSG Tertekan Rupiah dan Yield US Treasury
Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas menjelaskan, tekanan terhadap IHSG masih datang dari sejumlah sentimen eksternal. Pelemahan rupiah dan tingginya yield US Treasury membuat investor cenderung berhati-hati.Pada perdagangan sebelumnya, investor asing tercatat melakukan net sell sekitar Rp1,56 triliun di pasar reguler. Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian pelaku pasar setelah IHSG melemah pada perdagangan terakhir September.
Meski demikian, tidak semua sentimen memberikan tekanan. Penurunan harga minyak dunia mulai memberikan ruang bagi pasar, sementara pernyataan Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams mengenai belum adanya urgensi untuk kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat turut meredakan sebagian ekspektasi kenaikan bunga The Fed.
Data Inflasi dan Neraca Perdagangan Jadi Perhatian
Di samping itu, setelah IHSG membuka Oktober di zona merah, perhatian investor kini beralih ke sejumlah data ekonomi domestik yang dijadwalkan dirilis pada 1 Oktober.Dua data yang menjadi sorotan adalah inflasi September 2026 dan neraca perdagangan Agustus 2026.
Data tersebut penting bagi pasar karena dapat memberikan gambaran mengenai kondisi eksternal ekonomi Indonesia, tekanan harga domestik, serta ruang kebijakan Bank Indonesia di tengah pergerakan rupiah yang masih menjadi perhatian.
"Secara teknikal, IHSG masih berada dalam tekanan namun mulai memasuki area support Fibonacci 6.019, dengan support berikutnya di 5.854. MACD masih bearish, sehingga rebound belum terkonfirmasi; indeks berpotensi konsolidasi di area 6.000-6.200. Kemampuan bertahan di 6.019 menjadi kunci, sementara breakout 6.185–6.240 diperlukan untuk membuka ruang technical rebound lebih lanjut," jelas tim riset dalam riset harian.