Rupiah. Foto: MI.
Rupiah. Foto: MI.

Dolar AS Ngegas, Rupiah Tembus Rp17.533 Gara-Gara Sentimen The Fed

Arif Wicaksono • 13 Mei 2026 09:24
Ringkasnya gini..
  • Berdasarkan data pasar mata uang Investing, Rabu, 13 Mei 2026, kurs Dolar AS berada di level Rp17.533,8 atau naik 57,8 poin setara 0,33%.
  • Di pasar global, Indeks Dolar AS berada di level 98,187. Pergerakan tersebut menunjukkan mata uang Negeri Paman Sam masih relatif stabil di tengah tingginya perhatian investor terhadap data inflasi AS dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Jakarta: Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi hari ini di tengah meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar global. 
 
Berdasarkan data pasar mata uang Investing, Rabu, 13 Mei 2026, kurs Dolar AS berada di level Rp17.533,8 atau naik 57,8 poin setara 0,33%. Penguatan dolar AS juga diikuti sejumlah mata uang utama lainnya terhadap rupiah. 
 
Baca juga: Apa Penyebab Rupiah Anjlok ke Rp17.500 per USD?    

Ringgit Malaysia naik ke Rp4.462,93, baht Thailand menguat menjadi Rp541,902, sementara yuan China turut naik ke level Rp2.581,65. Euro Eropa tercatat berada di posisi Rp20.547,0 dan yen Jepang menguat tipis ke Rp111,18.
 
Di pasar global, Indeks Dolar AS berada di level 98,187. Pergerakan tersebut menunjukkan mata uang Negeri Paman Sam masih relatif stabil di tengah tingginya perhatian investor terhadap data inflasi AS dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Tekanan terhadap rupiah muncul seiring meningkatnya ekspektasi pasar bahwa suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama. Investor saat ini fokus pada laporan inflasi Amerika Serikat yang dinilai menjadi petunjuk penting bagi langkah kebijakan moneter bank sentral AS ke depan.
 
Berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS, inflasi konsumen atau Consumer Price Index (CPI) April tercatat naik 0,6% secara bulanan dan 3,8% secara tahunan. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar dan menjadi level tertinggi sejak Mei 2023.
 
Sementara itu, inflasi inti yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi naik 0,4% secara bulanan dan 2,8% secara tahunan. Kenaikan inflasi ini terutama dipicu oleh lonjakan harga energi dan bensin di Amerika Serikat.
 
Indeks harga energi tercatat meningkat 3,8% secara bulanan pada April, sedangkan harga bensin melonjak 5,4% dibanding bulan sebelumnya. Secara tahunan, harga bensin bahkan naik lebih dari 28%, menjadi salah satu pendorong utama tekanan inflasi.
 
Kepala Ekonom Macquarie Group David Doyle menilai lonjakan harga energi masih menjadi faktor dominan dalam kenaikan inflasi AS. Menurutnya, tekanan harga berpotensi berlanjut dalam beberapa bulan mendatang, terutama jika harga minyak dunia tetap tinggi.
 
Selain faktor inflasi, pasar juga mencermati perubahan kepemimpinan Federal Reserve. Masa jabatan Ketua The Fed Jerome Powell akan segera berakhir dan digadang-gadang digantikan oleh Kevin Warsh, sosok yang dikenal memiliki pandangan cukup hawkish terhadap inflasi.
 
Meningkatnya peluang kenaikan suku bunga The Fed pada akhir tahun turut menopang penguatan dolar AS. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada September hingga Desember mengalami peningkatan setelah rilis data inflasi terbaru.
 
Di sisi lain, harga emas dunia justru mengalami koreksi. XAU/USD tercatat turun 0,27% ke level 4.702,45 seiring perubahan sentimen pasar dan penguatan dolar AS.
 
Faktor geopolitik juga ikut memengaruhi pergerakan pasar. Ketegangan antara AS dan Iran kembali meningkat setelah belum adanya kemajuan dalam proses diplomasi kedua negara. Presiden AS Donald Trump menyebut proposal balasan Iran terkait kesepakatan damai sebagai sesuatu yang “tidak dapat diterima”.
 
Situasi tersebut mendorong investor cenderung mencari aset aman, sekaligus menjaga permintaan terhadap dolar AS tetap tinggi. Kondisi ini membuat tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berlanjut dalam jangka pendek, terutama jika sentimen global belum menunjukkan perbaikan signifikan.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan