Investasi Indonesia. Foto: Medcom.id.
Investasi Indonesia. Foto: Medcom.id.

S&P Pertahankan Peringkat Indonesia di Level BBB dengan Outlook Stabil, Berbeda dari Fitch dan Moody's

Arif Wicaksono • 15 Juli 2026 09:44

Jakarta: Lembaga pemeringkat global S&P Global Ratings kembali menegaskan peringkat utang Indonesia pada level BBB atau masih berada dalam kategori investment grade dengan prospek (outlook) stabil.


Keputusan tersebut berbeda dengan dua lembaga pemeringkat internasional lainnya, yakni Fitch Ratings dan Moody's Ratings, yang sama-sama masih mempertahankan status investment grade Indonesia, namun memberikan outlook negatif.
 

Baca juga:   BI: Peringkat Kredit BBB dari S&P Tegaskan Kepercayaan Global terhadap Ekonomi Indonesia


Dalam ulasan pasar yang diterbitkan Mirae Asset Sekuritas, S&P menilai tekanan terhadap kondisi fiskal Indonesia saat ini masih bersifat sementara. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kenaikan harga energi, tingginya suku bunga global, serta dampak peningkatan utang setelah pandemi Covid-19.


Selain itu, S&P tetap optimistis terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia. Lembaga tersebut memproyeksikan produk domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,2 persen pada 2026, kemudian meningkat menjadi 5,5 persen pada 2027, 5,9 persen pada 2028, dan 6,3 persen pada 2029.

Fitch dan Moody's Soroti Risiko Kebijakan
 
Di sisi lain, Fitch Ratings menilai terdapat peningkatan ketidakpastian kebijakan yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi. Lembaga tersebut juga menyoroti melemahnya bauran kebijakan serta risiko dari berbagai program pertumbuhan dan belanja sosial yang dinilai berpotensi menekan disiplin fiskal dan memperlemah ketahanan eksternal Indonesia.
 
Sementara itu, Moody's lebih menitikberatkan pada isu menurunnya prediktabilitas kebijakan dan kualitas tata kelola pemerintahan (governance). Menurut lembaga tersebut, kondisi itu dapat memengaruhi stabilitas makroekonomi apabila tidak segera diperbaiki.

Mirae Asset: Risiko Utama Bukan Turun Peringkat

Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai pandangan pihaknya lebih sejalan dengan penilaian Fitch dan Moody's terkait tantangan pada bauran kebijakan dan tata kelola, meski tetap mengakui fundamental neraca Indonesia masih relatif kuat sebagaimana disampaikan S&P.

Menurut Rully, risiko terbesar saat ini bukanlah hilangnya status investment grade dalam waktu dekat, melainkan potensi periode pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah disertai meningkatnya premi risiko apabila arah kebijakan pemerintah masih dinilai kurang jelas.

Ia juga menyoroti bahwa kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia belakangan ini belum mampu menopang penguatan rupiah secara konsisten di tengah adanya tarik-menarik antara kebijakan yang berorientasi pada stabilitas dan dorongan pertumbuhan ekonomi.

Dalam kondisi tersebut, Mirae Asset memilih strategi investasi yang lebih defensif dengan menempatkan saham BBCA, EXCL, dan JPFA sebagai pilihan utama.



Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan