Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: Setneg
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: Setneg

Purbaya: Fundamental Bagus, Tak Perlu Cemas Krisis Masa Lalu Terulang

Annisa ayu artanti • 23 Mei 2026 09:51
Ringkasnya gini..
  • Menkeu Purbaya memastikan tidak ada risiko krisis ekonomi terulang karena fundamental keuangan Indonesia saat ini sangat sehat.
  • Depresiasi rupiah saat ini hanya 4-5%, jauh berbeda dengan tahun 1998 saat rupiah anjlok dari Rp2.000 ke Rp17.000 per dolar AS.
  • Pemerintah mengumpulkan para tokoh senior eks Gubernur BI untuk sharing pengalaman mitigasi dampak krisis global 2007-2008.
Jakarta: Pemerintah sama sekali tidak khawatir Indonesia akan kembali terperosok ke dalam krisis ekonomi. Hal itu disampaikan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa usai menghadiri rapat terbatas di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, kemarin.
 
Ia memastikan bahwa fondasi ekonomi nasional saat ini masih berada dalam kondisi yang sangat sehat.
 
Menurutnya situasi yang dihadapi Indonesia sekarang sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan badai krisis moneter pada tahun 1998 silam.

Kala itu, nilai tukar rupiah merosot tajam hingga berkali-kali lipat dari kisaran Rp2.000 menjadi Rp17.000 per USD. Sementara saat ini, tingkat pelemahan (depresiasi) rupiah dinilai masih dalam batas wajar.
 
"Tidak (khawatir). Fundamental kita amat baik. Kalau dibandingkan tahun 1998, waktu itu kan dari Rp2.000 melemah sampai Rp17.000, itu sekian kali lipat. Kalau sekarang kan depresiasinya hanya sekitar 4 sampai 5 persen, jadi sebetulnya jauh sekali bedanya," ujar Purbaya, dilansir Antara, Sabtu, 23 Mei 2026.
 
Baca juga: Ekonomi RI Tumbuh 5,61%, Menkeu Purbaya Bilang Daya Beli Warga Masih Aman

Sentimen pasar dan 'serangan' faktor eksternal

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tekanan yang menimpa nilai tukar rupiah belakangan ini sebenarnya lebih dipicu oleh faktor persepsi atau sentimen pasar, bukan karena masalah internal ekonomi kita.
 
Ia tidak menampik bahwa Indonesia belakangan seperti dihujani tantangan eksternal secara bertubi-tubi. Mulai dari penyesuaian indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI), penilaian dari berbagai lembaga pemeringkat internasional, hingga fluktuasi nilai tukar global.
 
"Kalau kita lihat sekarang kan serangannya bertubi-tubi ke kita. Ada dari MSCI, habis itu lembaga pemeringkat, lalu pergerakan nilai tukar. Tapi kalau dari sisi fundamental sih nggak ada masalah. Jadi, ke depan kita mungkin akan memperbaiki cara mensosialisasikan keberhasilan ekonomi kita ke publik," jelasnya.

Belajar dari pengalaman Para senior

Guna memperkuat benteng pertahanan ekonomi nasional, pemerintah juga aktif mengumpulkan insight berharga dari masa lalu. Rapat terbatas tersebut rupanya turut dihadiri oleh sejumlah tokoh senior yang kenyang pengalaman dalam menjinakkan krisis, termasuk mantan Gubernur Bank Indonesia serta eks pejabat Kementerian PPN/Bappenas.
 
Pertemuan ini dimanfaatkan pemerintah untuk menyerap cerita dan strategi sukses penanganan krisis di masa lalu, seperti pada periode 2007-2008. Purbaya mengaku telah mencatat seluruh wejangan dari para senior tersebut untuk dipelajari lebih dalam sebagai langkah antisipasi ke depan.

"Kita sharing pengetahuan, gimana waktu menghadapi krisis 2007-2008 dan tahun-tahun sebelumnya. Masukan dari mereka apa, itu yang kita pelajari. Saya sudah catat semuanya dan diperintahkan untuk mempelajari, ya tentu akan kita pelajari," tutur Purbaya. (Fany Wirda Putri)


 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan