Direktur Utama Bank Neo Commerce Tjandra Gunawan. FOTO: Medcom.id
Direktur Utama Bank Neo Commerce Tjandra Gunawan. FOTO: Medcom.id

Bos BNC: Kami Tidak Terlambat Bertransformasi Digital

Ekonomi Bank Neo Commerce
Angga Bratadharma • 07 September 2021 10:33
Jakarta: PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) mengklaim tidak terlambat dalam melakukan transformasi digital. Bahkan, ke depan optimalisasi struktur permodalan bakal diperkuat guna memaksimalkan transformasi tersebut baik dengan datangnya investor baru maupun melalui right issue atau Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD).
 
Direktur Utama Bank Neo Commerce Tjandra Gunawan menjelaskan dalam mendirikan bank digital dibutuhkan setidaknya waktu tiga sampai lima tahun sampai sebuah bank digital beroperasi dengan lancar. Artinya, prosesnya tak instan dan membutuhkan investasi yang tidak sedikit karena menyangkut kepuasan, keamanan, dan kenyamanan bagi nasabah.
 
"Jika kita meneliti proses transformasi sebuah bank digital dari negara-negara yang terlebih dahulu mendirikan bank digital, faktanya membutuhkan tiga sampai lima tahun sampai sebuah bank digital beroperasi dengan lebih lancar," kata Tjandra, dalam Public Expose Insidentil PT Bank Neo Commercial Tbk yang digelar secara virtual, Senin, 6 September 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sejak awal 2020, lanjutnya, BNC telah melakukan fase persiapan dan menyiapkan sejumlah infrastruktur pendukung. Hal itu membuahkan hasil dengan mencatatkan posisi sebagai Bank BUKU II di kuartal IV-2020. Produk-produk yang dilahirkan pun telah dipersiapkan, dites, dan diperbaiki sejak awal 2020.
 
"Transformasi digital kini telah menjadi sebuah keharusan. Dapat dikatakan, kami tidak terlambat namun fase yang kami alami mengikuti momentum yang sedang berjalan. Kami hadir untuk memberikan sesuatu yang baru mengikuti kebutuhan masyarakat yang muncul di masa pandemi, yang kini dapat dikatakan sudah menjadi keniscayaan," tuturnya.
 
Tjandra kembali menegaskan bahwa berbagai proses persiapan telah dilakukan BNC sebelum mendeklarasikan menjadi Bank Neo Commerce. "Sehingga saat ini BNC bisa menyusul teman kami yang telah lebih dulu meluncur ke masyarakat. Dapat dikatakan, kami bukan menjual konsep dan mimpi, melainkan membangun fundamental yang baik," tegasnya.
 
Sebelumnya, PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) mencatat rugi sebelum pajak sebesar Rp132 miliar pada semester I-2021. Adapun penurunan laba bersih selama semester tersebut disebabkan transformasi perseroan menjadi bank digital.
 
"Perseroan terus mengalokasikan belanja modal untuk investasi di sisi teknologi, pengembangan sumber daya, dan juga pengembangan aplikasi agar sesuai dengan kebutuhan pengguna, termasuk biaya promosi," klaim Tjandra Gunawan.
 
Salah satu yang menyebabkan pencatatan rugi pada paruh pertama 2021 ini adalah beban operasional BNC yang meningkat sangat signifikan, yaitu dari Rp76 miliar per Juni 2020 menjadi Rp268 miliar per Juni 2021.
 
"Salah satu faktor yang menjadi penggerak utama peningkatan biaya operasional adalah sejak satu tahun terakhir, setelah resmi mengumumkan transformasi menjadi bank digital, BNC aktif melakukan investasi khususnya di bidang teknologi dan keamanan digital yang merupakan sesuatu yang sangat penting yang harus BNC bangun secara serius," jelasnya.
 
Selain faktor investasi di teknologi, kata Tjandra, penurunan laba bersih di semester I-2021 ini juga karena investasi di keamanan digital. "Sejalan dengan new digital user growth (pertumbuhan pelanggan bank digital), tentunya akan ada pos-pos biaya yang meningkat secara linear dengan pertumbuhan digital user kami tersebut," pungkasnya.
 
(ABD)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif