Mulai dari biaya konsultasi dokter, pemeriksaan laboratorium, obat-obatan, hingga rawat inap kini semakin mahal. Kalau belum punya perlindungan kesehatan yang memadai, satu kali sakit saja bisa mengganggu kondisi keuangan keluarga.
| Baca juga: Harapan Hidup Naik hingga 74 Tahun, Ini Pentingnya Perlindungan Finansial Berlapis |
Inilah alasan mengapa asuransi kesehatan semakin dipandang sebagai kebutuhan, bukan lagi sekadar pelengkap. Dengan perlindungan yang tepat, masyarakat bisa lebih fokus pada proses penyembuhan tanpa terus dihantui tagihan rumah sakit.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Laporan Health Trends 2026 dari Mercer Marsh Benefits memperkirakan inflasi medis di Indonesia mencapai 17,8 persen. Angka itu jauh melampaui inflasi umum yang hanya sekitar 2,5 persen, bahkan menjadi yang tertinggi di kawasan Asia.
Artinya, biaya layanan kesehatan meningkat jauh lebih cepat dibandingkan harga kebutuhan sehari-hari. Jika kondisi ini terus berlanjut, masyarakat harus mengeluarkan dana yang semakin besar setiap kali membutuhkan pelayanan medis.
Selain dipicu inflasi medis, kondisi ekonomi global juga ikut memberi tekanan. Pelemahan nilai tukar rupiah membuat biaya impor obat-obatan dan berbagai peralatan medis ikut meningkat. Dampaknya, rumah sakit harus menanggung biaya operasional yang lebih tinggi, yang pada akhirnya ikut memengaruhi tarif pelayanan kesehatan.
Lonjakan biaya tersebut juga dirasakan industri asuransi jiwa. Data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menunjukkan pembayaran klaim kesehatan sepanjang 2025 mencapai Rp26,8 triliun, naik 9,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Di sisi lain, pertumbuhan klaim yang lebih cepat dibandingkan penerimaan premi membuat rasio klaim atau loss ratio di banyak perusahaan asuransi ikut meningkat. Kondisi ini menjadi tantangan besar agar industri tetap mampu membayar klaim nasabah secara berkelanjutan.
Direktur Eksekutif AAJI, Emira E. Oepangat, sebelumnya menegaskan bahwa kenaikan biaya kesehatan merupakan tantangan bersama. Menurutnya, solusi hanya bisa tercapai melalui kolaborasi pemerintah, rumah sakit, perusahaan asuransi, hingga masyarakat yang memanfaatkan layanan kesehatan secara bijak.
Kenapa Biaya Berobat Terus Naik?
Ada banyak faktor yang membuat biaya kesehatan terus merangkak naik.Di satu sisi, perkembangan teknologi medis membuat diagnosis dan pengobatan menjadi lebih akurat. Namun, penggunaan alat kesehatan modern juga membutuhkan investasi besar sehingga biaya pelayanan ikut meningkat.
Kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan setelah pandemi juga semakin tinggi. Semakin banyak orang yang memanfaatkan fasilitas kesehatan, semakin besar pula biaya yang harus ditanggung oleh sistem kesehatan.
Masalah lainnya adalah masih adanya tantangan efisiensi dalam pelayanan kesehatan. Mulai dari pemborosan layanan (waste), tindakan medis yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan (overtreatment), hingga penyalahgunaan klaim (fraud).
BPJS Kesehatan dalam Indonesia Anti-Fraud Forum (INAFF) 2025 memperkirakan praktik Fraud, Waste, and Abuse (FWA) dapat menyumbang sekitar 5 persen terhadap total rasio klaim industri kesehatan.
Chief Health Officer Prudential Indonesia, Yosie William Iroth, mengatakan pengelolaan klaim yang transparan menjadi salah satu langkah penting agar perlindungan kesehatan tetap berkelanjutan.
Menurutnya, Prudential Indonesia terus memperkuat tata kelola klaim, memanfaatkan analisis data, serta bekerja sama dengan rumah sakit agar biaya kesehatan tetap efisien tanpa mengurangi kualitas layanan bagi nasabah.
Jadi, Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat?
Di tengah biaya medis yang terus naik, masyarakat tetap bisa mengambil beberapa langkah sederhana agar kondisi finansial tetap aman.Pertama, biasakan menjalani gaya hidup sehat. Pola makan yang baik, rutin berolahraga, tidur yang cukup, dan melakukan medical check-up secara berkala jauh lebih murah dibandingkan biaya mengobati penyakit yang sudah telanjur parah.
Kedua, jangan asal punya asuransi. Luangkan waktu untuk memahami isi polis, mulai dari manfaat, batas pertanggungan, hingga syarat dan ketentuan klaim. Langkah ini penting agar tidak muncul kesalahpahaman saat membutuhkan perlindungan.
Ketiga, pilih produk asuransi yang memberikan manfaat lebih dari sekadar membayar biaya rumah sakit. Saat ini banyak perusahaan asuransi mulai menawarkan layanan tambahan yang membantu nasabah menjaga kesehatan sejak dini.
Yosie menilai perlindungan kesehatan seharusnya tidak hanya hadir ketika seseorang sakit, tetapi juga mampu memberikan rasa aman dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Pada akhirnya, biaya berobat memang terus meningkat. Namun, dengan menerapkan gaya hidup sehat, memahami manfaat perlindungan yang dimiliki, serta memilih produk asuransi yang sesuai kebutuhan, masyarakat tetap bisa menjaga kesehatan sekaligus melindungi kondisi keuangan keluarga untuk jangka panjang.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda