CEO Lippo Karawaci John Riady (tengah).. (FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin).
CEO Lippo Karawaci John Riady (tengah).. (FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin).

Strategi Bisnis Lippo Atasi Korona

Ekonomi Virus Korona lippo grup
Annisa ayu artanti • 30 Maret 2020 12:06
Jakarta: PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) melakukan beberapa langkah perubahan strategi bisnis di tengah penyebaran virus korona (covid-19). Mulai dari melakukan lindung nilai sampai menghapus semua obligasi yang jatuh tempo.
 
CEO Lippo Karawaci John Riady mengatakan selama tiga bulan terakhir perusahaan telah secara proaktif mengambil langkah-langkah untuk memperkuat fleksibilitas keuangan.
 
"Dalam masa yang penuh ketidakpastian ini, perusahaan telah membuat sejumlah keputusan," kata John dalam keterangan tertulisnya, Senin, 30 Maret 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurutnya, langkah-langkah yang telah diambil telah menempatkan perusahaan dalam posisi yang kuat untuk secara efektif mengambil tindakan yang diperlukan menghadapi ketidakpastian pasar yang kerap berubah akibat pandemi virus korona.
 
Ia menjelaskan, di tingkat perusahaan induk, Lippo Karawaci saat ini memiliki lebih dari Rp3,5 triliun dalam bentuk tunai secara substansial dalam mata uang USD dan dolar Singapura (SGD). Kemudian, perusahaan juga mencatat tingkat utang bersih terhadap ekuitas perseroan hanya 21 persen.
 
"Hal ini memastikan perseroan berada dalam posisi yang baik untuk menghadapi dampak pandemi global," ucapnya.
 
Lebih lanjut ia membeberkan beberapa inisiatif yang dilakukan sejak 1 Januari 2020 meliputi Lippo Cikarang telah meluncurkan Waterfront Estates, proyek perumahan tapak terbaru. Secara total, perseroan telah menjual lebih dari 304 rumah senilai Rp262,6 miliar.
 
Kemudian, perusahaan berhasil melakukan divestasi seluruh saham di First REIT yang dimulai sejak Juni 2019 dan selesai pada Februari 2020. Pada kuartal pertama 2020 saja, aksi korporasi tersebut menghasilkan Rp322 miliar. Total penjualan sejak dimulainya aksi korporasi pada Juni 2019 telah menghasilkan Rp851,7 miliar.
 
Lalu, perusahaan juga melakukan inisiatif utama pada awal 2020 yaitu melakukan penghematan uang tunai termasuk perubahan strategi lindung nilai (hedging). Perusahaan berkode emiten LPKR ini telah melakukan hedging pada awal kuartal pertama 2020 ketika nilai tukar rupiah berada di level Rp13.700 per USD.
 
"Kami menghasilkan sekitar USD60 juta dengan memindahkan hedging kami dari Rp15 ribu ke Rp17.500 untuk nilai pokok obligasi kami," sebutnya.
 
Kemudian, perusahaan juga menghapus semua obligasi yang jatuh tempo hingga 2025 melalui pembiayaan kembali obligasi senilai USD425 juta dari 2022 menjadi 2025.
 
Perusahaan juga telah menandatangani pinjaman modal kerja sebesar Rp700 miliar, serta melakukan bebrapa inisiatif-inisiatif penghematan seperti menurunkan biaya operasional dan modal kerja pada tahun fiskal 2020.
 
"Pinjaman akan menyediakan likuiditas tambahan bagi perseroan, jika diperlukan," ujarnya.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif