Ilustrasi. Foto: dok MI/Ramdani.
Ilustrasi. Foto: dok MI/Ramdani.

Jelang Puasa, Uang Beredar di Indonesia Naik Jadi Rp7.810 Triliun

Ekonomi Bank Indonesia suku bunga obligasi Uang Beredar kasus covid turun Ramadan 2022
Husen Miftahudin • 22 April 2022 13:43
Jakarta: Bank Indonesia (BI) melaporkan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Maret 2022 atau menjelang bulan Ramadan mencapai Rp7.810,9 triliun, atau tumbuh 13,3 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 12,5 persen (yoy).
 
"Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan seluruh komponennya. M1 tumbuh 18,7 persen (yoy), lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 18,3 persen, yoy), terutama disebabkan oleh pertumbuhan uang kartal serta tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu," terang Analisis Uang Beredar Posisi Maret 2022 dikutip dari laman resmi Bank Indonesia, Jumat, 22 April 2022.
 
Adapun peredaran uang kartal pada Maret 2021 tercatat sebesar Rp792,6 triliun, atau tumbuh 14,5 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 14,0 persen (yoy) didorong oleh meningkatnya aktivitas masyarakat seiring meredanya kasus covid-19.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu dengan pangsa 48,2 persen terhadap M1, tercatat sebesar Rp2.097,4 triliun pada posisi laporan atau tumbuh 14,0 persen (yoy), meningkat dibandingkan Februari 2022 sebesar 13,7 persen (yoy). Sementara itu, pertumbuhan giro rupiah pada Maret 2022 tercatat stabil sebesar 28,8 persen (yoy).
 
Di sisi lain, dana float uang elektronik tercatat sebesar Rp10,8 triliun, tumbuh 45,5 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 39,4 persen (yoy). Pangsa dana float (saldo) uang elektronik terhadap M1 pada posisi laporan sebesar 0,2 persen.
 
Uang kuasi, dengan pangsa 43,9 persen dari M2, tercatat sebesar Rp3.432,2 triliun pada Maret 2022 atau tumbuh 6,9 persen (yoy), meningkat dari pertumbuhan bulan sebelumnya (6,5%, yoy). Peningkatan uang kuasi terutama bersumber dari komponen tabungan lainnya serta giro valas.
 
"Sementara itu, simpanan berjangka tercatat tumbuh melambat 2,4 persen (yoy) seiring dengan makin rendahnya suku bunga yang ditawarkan," terang BI dalam surveinya.
 
Komponen surat berharga selain saham dengan pangsa 0,3 persen terhadap M2 tumbuh 46,2 persen (yoy), sehubungan dengan meningkatnya kewajiban akseptasi bank terhadap sektor swasta domestik, sertifikat deposito dan obligasi dengan jatuh tempo dibawah satu tahun.
 
Berdasarkan faktor yang memengaruhinya, peningkatan pertumbuhan M2 pada Maret 2022 terutama dipengaruhi berlanjutnya akselerasi penyaluran kredit. Pada Maret 2022, penyaluran kredit tumbuh 6,4 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 6,1 persen (yoy) sejalan dengan peningkatan penyaluran kredit produktif maupun konsumtif.
 
Di sisi lain, keuangan pemerintah dan aktiva luar negeri bersih menjadi faktor penahan peningkatan M2 yang lebih tinggi. Ekspansi keuangan pemerintah tercatat melambat seiring dengan perlambatan pertumbuhan tagihan bersih sistem moneter kepada pemerintah pusat, dari 42,7 persen (yoy) pada Februari 2022 menjadi 27,9 persen (yoy) pada bulan laporan.
 
"Hal tersebut disebabkan oleh perlambatan tagihan sistem moneter kepada pemerintah pusat berupa kepemilikan surat berharga negara serta peningkatan kewajiban berupa simpanan Pempus pada sistem moneter. Demikian pula aktiva luar negeri bersih pada Maret 2022 terkontraksi sebesar 1,5 persen (yoy), berbalik arah dibandingkan Februari 2022 yang tercatat tumbuh positif 1,4 persen (yoy) sejalan dengan perkembangan cadangan devisa," pungkas BI.
 
(HUS)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif