Ilustrasi. FOTO: Fotolia
Ilustrasi. FOTO: Fotolia

Fintech Punya Potensi Besar Terus Tumbuh di 2021

Ekonomi Ekonomi Digital Fintech Kredivo
Angga Bratadharma • 25 November 2020 08:15
Jakarta: Industri fintech di Indonesia diyakini memiliki potensi besar untuk terus tumbuh, baik di tahun ini maupun utamanya di tahun depan. Hal itu lantaran tingkat literasi dan inklusi keuangan di Tanah Air yang belum berada di level tinggi dan didukung oleh penggunaan teknologi yang dari waktu ke waktu terus meningkat.
 
Co-Founder Kredivo Umang Rustagi menilai Indonesia merupakan negara dengan industri fintech didalamnya terus berkembang. Hal itu ditunjang dengan jumlah populasi yang besar sehingga membuka potensi bagi fintech. Apalagi, masih banyak dari masyarakat yang belum terakses lembaga jasa keuangan, terutama oleh perbankan.
 
"Membuka potensi sebagai fintech untuk melayani lebih banyak masyarakat yang selama ini belum tersentuh layanan perbankan. Untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat maka perlu membangun kredibilitas," kata Umang, dalam sebuah konferensi pers virtual, Selasa, 24 November 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Head of Marketing Kredivo Indina Andamari menambahkan pihaknya optimistis tahun depan akan terus tumbuh. Keyakinan itu muncul karena pada saat pandemi sekarang ini pertumbuhan bisnis Kredivo terbilang positif, didukung peningkatan penggunaan transaksi digital oleh masyarakat.
 
"Bisa dilihat saat kemarin festival belanja 11.11. Antusiasme sangat tinggi karena orang-orang menggunakan pembayaran digital. Jadi untuk 2021 kami optimistis. Bahkan, kami punya target untuk (laju bisnis) tumbuh lebih dari 250 persen pada 2021," tuturnya.
 
Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan akumulasi transaksi Inovasi Keuangan Digital (IKD) per September 2020 mencapai sebanyak Rp9,87 triliun. Raihan tersebut dikontribusi oleh 84 penyelenggara IKD yang tercatat di OJK, dengan 74 di antaranya merupakan konvensional sedangkan 10 penyelenggara lainnya syariah.
 
Meskipun akselerasi industri IKD di Indonesia begitu cepat, namun Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menekankan penyelenggara inovasi keuangan digital tersebut perlu terus didukung oleh regulator seperti OJK, Bank Indonesia (BI), Kementerian Keuangan (Kemenkeu), serta Kementerian Komunikasi dan Informatika.
 
"OJK telah membentuk unit khusus bernama pengembangan keuangan digital yang telah dibentuk sejak 2018 dan mulai efektif pada 2019 sampai sekarang. Unit tersebut mengklasifikasi dan melihat model bisnis dari IKD yang biasa disebut proses regulatory sandbox," ujar Wimboh.
 
Selain itu, lanjut dia, pihaknya telah membangun OJK Infinity yang diperuntukan bagi anak muda dan pengusaha yang berkenan untuk mengembangkan ekonomi digital melalui pembentukan startup jasa keuangan. Wadah yang disediakan OJK itu diharapkan dapat mengawal startup jasa keuangan digital demi memberikan manfaat dan rasa aman.
 
"Ini sangat penting karena masyarakat kita ini literasinya masih rendah. Rata-rata masyarakat kita yang ada di wilayah terpencil dan sudah lama tidak bisa diakses produk keuangan atau e-commerce, sekarang kan bisa diakses melalui digital. Butuh effort yang besar untuk kita edukasi," pungkas Wimboh.
 
(ABD)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif