"Terus berlanjutnya surplus neraca perdagangan tentu saja menggembirakan karena bisa mengurangi tekanan terhadap ekonomi akibat pandemi," kata Ekonom CORE Indonesia Piter Abdullah kepada Medcom.id di Jakarta, Jumat, 21 Mei 2021.
Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat surplus terjadi setelah ekspor tercatat sebesar USD18,48 miliar, sedangkan impor hanya USD16,29 miliar pada bulan lalu. Dibandingkan dengan tahun lalu, baik ekspor maupun impor sama-sama mengalami kenaikan.
"Tumbuhnya ekspor didorong kenaikan harga komoditas dan terus membaiknya permintaan global khususnya dari negara tujuan ekspor utama kita seperti Tiongkok. Di sisi lain impor yang diperkirakan mulai meningkat ternyata peningkatannya masih jauh di bawah normal," jelas dia.
Piter menyebut sebenarnya kinerja impor diharapkan bisa tumbuh lebih tinggi lantaran bergeraknya industri seiring kenaikan penjualan mobil dan perumahan, serta industri lainnya. Pertumbuhan impor ini akhirnya mendorong surplus lebih tinggi.
"Kenaikan impor yang dibawah perkiraan menyebabkan surplus neraca perdagangan pada April meningkat lebih besar daripada Maret. Surplus neraca perdagangan diperkirakan masih akan berlanjut pada Mei," pungkasnya.
Sementara itu, Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, surplus neraca perdagangan pada bulan lalu merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan surplus sejak Januari 2021. Bahkan, Indonesia mencatat rekor dengan surplus selama 12 bulan beruntun sejak Mei tahun lalu.
"Kalau kita mundur ke belakang, dengan surplus di April 2021 ini maka neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus selama 12 bulan berturut-turut sejak Mei tahun lalu," katanya dalam video conference di Jakarta, Kamis, 20 Mei 2021.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News