Mata uang rupiah. Foto : AFP.
Mata uang rupiah. Foto : AFP.

Mencetak Uang Diyakini Tidak akan Hiperinflasi

Ekonomi inflasi Uang Beredar
Eko Nordiansyah • 04 Juni 2020 09:20
Jakarta: CORE Indonesia meyakini bahwa kebijakan mencetak uang tidak akan serta-merta mengakibatkan hiperinflasi seperti yang terjadi pada periode 1960-1966. Apalagi secara historis, Indonesia pernah melakukan kebijakan cetak uang (money creation) pada masa orde lama yang mengakibatkan hiperinflasi, yakni stadium akhir dari penyakit inflasi.
 
"Penyebab hiperinflasi yang terjadi pada saat itu (1960-an) adalah kombinasi kenaikan jumlah uang beredar yang tidak diimbangi oleh sisi suplai yang kuat akibat kelangkaan bahan baku, serangkaian ketegangan politik, dan kebijakan makro yang kurang tepat," tulis CORE Indonesia dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis, 4 Juni 2020.
 
Ada beberapa alasan mengapa kebijakan mencetak uang tidak akan serta-merta mengakibatkan hiperinflasi pada kondisi saat ini. Pertama, pencetakan uang tidak akan menyebabkan bertambahnya jumlah uang beredar yang terlalu besar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pasalnya, posisi jumlah uang beredar saat ini relatif rendah, sementara kenaikan jumlah uang yang diakibatkan juga tidak terlalu besar dan berlangsung tidak terus-menerus. Selain itu pertambahan uang beredar juga tidak serta-merta akan mendorong permintaan.
 
"Kedua adalah kenaikan permintaan, yang diperkirakan terbatas, masih bisa diakomodasi dengan ketersediaan pasokan. Dari sisi produksi saat ini Indonesia memiliki sarana dan prasarana produksi yang relatif baik. Memang benar beberapa industri mengurangi aktivitas produksi sebagai respons dari penurunan daya beli masyarakat," tulis pernyataan resmi CORE Indonesia.
 
Namun secara agregat sektor manufaktur dan sektor strategis lainnya sebenarnya masih mengalami pertumbuhan. Bahkan, jika relaksasi kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilakukan dengan baik, aktivitas industri berpotensi dapat kembali normal secara bertahap.
 
"Ketiga, situasi politik saat ini jauh lebih kondusif, dan tingkat inflasi juga relatif rendah. Tingkat inflasi pada 2020 diproyeksikan akan lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini didasari oleh rendahnya inflasi pada bulan Ramadan tahun ini," lanjut pernyataan tersebut.
 
Sebagai perbandingan, inflasi secara year to date per Mei 2020 hanya 0,90 persen, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 1,48 persen. Rendahnya angka inflasi menandakan pelemahan daya beli masyarakat yang disebabkan oleh penurunan pendapatan masyarakat akibat pandemi.
 
"Dengan inflasi yang tahun ini diprediksi lebih rendah, pemerintah semestinya dapat lebih leluasa untuk melakukan kebijakan yang lebih akomodatif dari sisi moneter, termasuk di antaranya kebijakan mencetak uang," tutup pernyataan CORE Indonesia tersebut.

 
(SAW)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif