Virtual talk show #SuperONEderful by Super You bertajuk Social Anxiety: How to cope with it. FOTO: Sequis
Virtual talk show #SuperONEderful by Super You bertajuk Social Anxiety: How to cope with it. FOTO: Sequis

Mengenal Kecemasan Sosial dan Pentingnya Proteksi Asuransi

Ekonomi asuransi asuransi jiwa asuransi umum Sequis Life asuransi kesehatan
Angga Bratadharma • 07 November 2020 11:33
Jakarta: Kesehatan mental menjadi topik hangat diperbincangkan masyarakat selama pandemi covid-19. Bahkan bukan tidak mungkin di sebagian masyarakat terutama pada generasi milenial mengalami gangguan kesehatan mental seperti kecemasan sosial yang tentunya perlu dicarikan solusinya.
 
Kecemasan sosial adalah kondisi ketika seseorang merasa cemas dan takut ketika harus bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain atau dikenal dengan istilah 'Demam Panggung'. Gejala kecemasan sosial ditandai timbulnya benjolan di tenggorokan, berkeringat, gemetar, jantung kerap berdebar kencang, ketegangan otot, nyeri, mual, dan pusing.
 
Selain itu, menurut Psikiater & Ahli Psikosomatis RS OMNI Hospital Alam Sutera, Andri, gejala kecemasan sosial lainnya yakni ada perasaan ingin melarikan diri, dirundung perasaan bersalah, dan selalu ingin menghindar ketika harus tampil di depan umum atau ketika harus menjadi pusat perhatian.
 
Pengidap kecemasan sosial, lanjutnya, juga kerap menghindari orang-orang yang mereka anggap punya kedudukan lebih tinggi dari dirinya meskipun orang tersebut masih keluarga, seperti paman atau bibinya. Ia menambahkan kecemasan yang intens terus menerus dari penderita kecemasan sosial dapat memengaruhi kesehatan fisik.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Atau dikenal dengan istilah psikosomatik, yaitu keluhan fisik yang timbul atau dipengaruhi oleh pikiran atau emosi, bukan oleh alasan fisik, seperti luka atau infeksi," kata Andri, dalam virtual talk show #SuperONEderful by Super You bertajuk 'Social Anxiety: How to cope with it?', Jumat malam, 6 November 2020.
 
Apabila seseorang mengalami gejala kecemasan sosial, Andri menyarankan beberapa tips untuk mengatur rasa cemas. Tips itu seperti mencoba membiasakan diri untuk menghadiri meeting tepat waktu sehingga dapat melihat satu per satu audience yang datang, dan membekali diri dengan update mengenai situasi atau pemberitaan terkini.
 
"Sehingga memiliki topik untuk menjadi bahan diskusi dengan orang lain. Kemudian menghindari minuman beralkohol, mengonsumsi makanan sehat, dan rajin berolahraga," kata Andri.
 
Disebabkan media sosial
 
Lebih lanjut, kecemasan sosial juga dapat disebabkan oleh media sosial, terutama saat pandemi covid-19. Hal itu lantaran pada saat pandemi covid-19, perubahan sosial terjadi secara mendadak, cepat, dan terus menerus. Penggunaan media sosial yang berlebihan dan tidak pada tempatnya saat pandemi memicu berkurangnya interaksi fisik.
 
Media sosial juga dapat menjadi salah satu pemicu kecemasan karena melihat dan membaca informasi yang tidak benar. Awalnya ingin menghibur diri saat banyak waktu harus dihabiskan di rumah. Tetapi, alih-alih terhibur, mereka yang tadinya sudah cemas jadi semakin takut beraktivitas dan mengambil keputusan karena terpengaruh informasi dari media sosial.  
 
Apalagi, Content Creator Kesehatan Mental Dimas Alwin mengungkapkan, informasi soal covid-19 sering disajikan dengan kurang tepat atau bertujuan menakut-nakuti dan kontennya tidak diverifikasi terlebih dahulu sehingga membingungkan pembaca. Saat menggunakan media sosial, ia menyarankan, dipergunakan secara bijak.
 
Namun, tambahnya, jika tidak terlalu penting atau di luar mengerjakan tugas sekolah atau bekerja maka seseorang disarankan lebih banyak berinteraksi secara nyata dengan orang sekitar ketimbang berselancar di dunia maya.
 
"Kita tahu virus ini bisa menyebabkan terganggunya kesehatan, menurunnya kualitas hidup, dan menyebabkan kematian sehingga informasi yang disajikan harus bersifat edukatif agar pembaca memiliki pemahaman yang benar dan mematuhi protokol kesehatan bukan sebaliknya menjadi khawatir," kata Dimas.
 
Mengurangi rasa cemas
 
Masyarakat perlu mengetahui terganggunya kesehatan dapat menimbulkan kecemasan baru, yaitu jika harus mendapatkan perawatan medis maka harus mengeluarkan sejumlah uang yang tidak kecil dan bisa jadi menggerus finansial keluarga. Bagi mereka yang telah memiliki asuransi, rasa cemas pada jumlah tagihan rumah sakit masih bisa dikendalikan.
 
Sebab biayanya akan ditanggung oleh perusahaan asuransi dengan nilai pertanggungan sesuai yang tercantum pada polis. Dengan demikian, pasien dapat berfokus pada proses penyembuhan, sementara tabungan dan aset yang dimiliki keluarga tetap terjaga.
 
Hal itu juga termasuk jika terjadi kematian hingga sumber pemasukan keluarga hilang, ada sejumlah Uang Pertanggungan (UP) dari perusahaan asuransi yang dapat dimanfaatkan oleh keluarga agar mampu memenuhi kebutuhan hidup selanjutnya.
 
Memiliki asuransi saat pandemi, sudah bukan lagi sekadar pilihan perlu atau tidak karena sudah menjadi prioritas. Perasaan cemas jika finansial tergerus karena biaya medis atau hilangnya sumber pendapatan karena meninggal dunia dapat dialihkan menjadi rasa aman dengan berasuransi. Masyarakat bisa memanfaatkan Super You untuk melindungi diri dan keluarganya.
 
"Masalah kesehatan mental menjadi isu hangat di masyarakat, terutama pada generasi milenial. Beberapa orang mungkin ada yang mengalami kecemasan sosial. Kami mengimbau para milenial untuk peduli hidup sehat. Sebab jika kesehatan terganggu, dampaknya semakin meluas termasuk terganggunya finansial," sebut Head of Digital Channel Sequis Evan Tanotogono.
 
Kondisi itu, lanjut Evan, yang membuat Sequis menyelenggarakan virtual talk show mengangkat topik social anxiety sekaligus menyambut ulang tahun pertama kanal asuransi digital Sequis, Super You by Sequis Online. Acara itu, tambahnya, memberikan pemahaman tentang manfaat asuransi sebagai jaring pengaman finansial keluarga dari berbagai potensi ancaman risiko.
 
Adapun risiko tersebut datangnya tidak terduga, misalnya, saat terjadi risiko gangguan kesehatan yang memerlukan perawatan medis maka asuransi kesehatan akan terasa manfaatnya. "Kami ingin berbagi pengetahuan dengan mengundang pembicara ahli agar para milenial mengetahui cara terbaik untuk merespon kecemasan sosial dan tidak meremehkannya," ucap Evan.
 
Jaga kesehatan mental
 
Psikolog dari Riliv, Prita Yulia Maharani, mengatakan milenial dapat menjaga kesehatan mental dengan mulai menjaga kesehatan keuangan. Sebab uang adalah salah satu kebutuhan vital sehingga perlu dikelola dengan baik agar tidak terjebak dalam pola salah urus yang akan mengakibatkan banyak kerugian, penyesalan mendalam hingga mengakibatkan gangguan mental.
 
Ketika mengalami gangguan mental, lanjutnya, pasien harus segera ditangani oleh ahlinya dan jangan dibiarkan seolah-olah tidak terjadi apa-apa karena dapat berpotensi menyebabkan perilaku melukai dan menyakiti diri sendiri, bunuh diri, dan melukai orang lain.
 
"Tanda awal terjadinya gangguan mental dapat dilihat dari perubahan kepribadian, mulai muncul kecemasan, sering mood swing, menarik diri dari lingkungan sosial, kurang merawat diri, hingga melakukan hal yang berisiko tinggi pada dirinya, seiring munculnya suicide thought," ujar Prita.
 
Bijak mengelola keuangan adalah langkah pertama agar keuangan selalu sehat. Senior Manager Business Development Sequis Yan Ardhianto Handoyo menyebut ada beberapa tips sederhana agar milenial dapat lebih bijak dalam mengelola keuangannya yang berdampak terhadap terjaganya kesehatan mental.
 
Pertama, sisihkan minimal 10 persen dari penghasilan atau uang jajan untuk tabungan masa depan. Kedua, siapkan dana darurat dan asuransi, seperti asuransi kesehatan, penyakit kritis, dan asuransi yang menanggung cacat tetap total. Ketiga, hindari berutang dan bila berutang pastikan untuk utang produktif yang nilainya akan meningkat di masa depan, seperti cicilan KPR.
 
Demikian juga dengan penggunaan kartu kredit, Yan menyarankan agar hanya digunakan sebagai alat bantu bayar bukan untuk menyediakan uang tambahan dan segera dibayar lunas, misalnya, digunakan karena ada diskon ketimbang bayar cash. Selama penggunaannya efektif sebenarnya justru dapat membantu dalam mengatur cash flow.
 
"Sayangnya banyak milenial yang terjebak dengan masalah finansial, yaitu pemasukan sedikit sehingga terjebak utang, pemasukan besar tapi tidak bijak mengatur pengeluaran. Jika seseorang tidak bisa mengatur anggaran, uangnya akan cepat habis kemudian terjebak pada cicilan utang," pungkasnya.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif