"Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak menguat dan diperdagangkan pada level 6.069-6.269," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, dikutip dari Mediaindonesia.com, Senin, 8 Februari 2021.
Perlambatan pada perekonomian di kuartal IV-2020 sebesar -0,42 persen berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi di sepanjang 2020 yang terkontraksi sebesar -2,07 persen dan -2,19 persen YoY. Penurunan aktivitas dan produktivitas selama 2020 menjadi tekanan pada kinerja emiten.
Indonesia kembali mengalami kontraksi setelah lebih dari 24 tahun sejak perlambatan ekonomi terbesar pada 1997-1998. Berdasarkan data BPS, kontraksi pertumbuhan terdalam terjadi pada lapangan usaha transportasi dan pergudangan yang mengalami penurunan sebesar -15,04 persen.
Sementara itu dari sisi pengeluaran, komponen ekspor barang dan jasa terkontraksi terdalam sebesar -7,7 persen. Impor barang dan jasa yang merupakan faktor pengurang, terkontraksi sebesar -14,71 persen. Alhasil penurunan ekonomi Indonesia sepanjang 2020 sebesar -2,07 persen.
Penurunan ini juga dialami oleh Singapura -5,8 persen, Filipina -9,5 persen, Amerika -3,5 persen, dan Eropa -6,4 persen. Pelaku pasar cukup mengapresiasi kinerja fundamental Indonesia yang dinilai cukup kuat dibandingkan negara lain. Penguatan IHSG setelah rilis data tersebut menjadi gambaran, dengan pelaku pasar dapat menoleransi dan lebih melihat prospek pemulihan dari ekonomi di 2021.
Namun pelaku pasar juga akan mempertimbangkan dampak dari pengetatan aktivitas pada kuartal I-2021 ini, yang dapat menjadi tekanan pada pemulihan ekonomi di kuartal I-2021.
"Jika mengacu pada data historis, kuartal I-2020 masih memiliki pertumbuhan sebesar 2,97 persen, sehingga kami melihat untuk pertumbuhan mendekati nol persen di kuartal I-2021 sudah cukup baik," kata Nico.
Terlebih saat ini sektor manufaktur diharapkan mampu bertahan pada fase ekspansi, sehingga hal tersebut diharapkan menjadi trigger terhadap membaiknya fundamental dari dalam negeri.
"Pelaku pasar dan investor tampaknya mulai menerima situasi dan kondisi 2020 silam, dan akan mulai kembali fokus kepada langkah-langkah pemerintah 2021, untuk mendorong fase pemulihan agar dapat terjadi lebih cepat lagi," kata Nico.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News