IHSG Rabu, 29 September 2021, perdagangan pagi bergerak di 6.125, menguat 0,20 persen atau setara 12,2 poin. Level tertinggi berada di 6.127 dan level terendah berada di 6.086. Sebanyak 167 saham menguat, sebanyak 262 saham terpantau tertekan, dan sebanyak 179 saham tidak mengalami perdagangan.
Sementara itu, IHSG pada perdagangan di sepanjang hari ini diproyeksikan bergerak di area negatif seiring minimnya katalis positif. Para investor harus ekstra hati-hati agar tidak mengalami kerugian dan mencermati ke mana arah indeks mengingat Federal Reserve juga segera merealisasikan tapering.
"Dengan tertekannya bursa global dan minimnya sentimen positif, kami memperkirakan IHSG akan bergerak cenderung negatif pada hari ini. EIDO semalam melemah 0,9 persen. Pagi ini Nikkei terpantau turun 1,9 persen dan Kospi minus 1,4 persen," sebut Samuel Research Team, dalam riset hariannya.
Adapun perkembangan kasus covid-19 di Indonesia semakin melandai. Terjadi penambahan 2.057 kasus baru pada Selasa, 28 September, dengan positive rate sebesar 1,1 persen. Namun kasus sembuh masih lebih tinggi yaitu 3.551 kasus. Dengan demikian, kasus aktif terus menurun menjadi 38.652 (tertinggi ke-14 di Asia) turun 26,3 persen dari minggu sebelumnya.
Sedangkan recovery rate naik menjadi 95,7 persen. Kemudian upaya vaksinasi covid-19 terus berjalan, dengan 88,5 juta penduduk telah mendapat vaksinasi tahap pertama. Lalu yang menerima vaksinasi tahap kedua mencapai 49,6 juta penduduk.
Di sisi lain, bursa saham Amerika Serikat (Wall Street) turun tajam pada Selasa waktu setempat (Rabu WIB). Imbal hasil obligasi Pemerintah AS mendekati level tertinggi tiga bulan dengan anggota parlemen di Washington tengah mengalami kebuntuan anggaran.
Indeks Nasdaq Composite turun 2,83 persen menjadi 14.546,68 dan S&P 500 turun 2,04 persen menjadi 4.352,63. Indeks Dow Jones Industrial Average kehilangan 569,38 poin atau 1,63 persen menjadi ke level 34.299,99.
Imbal hasil obligasi AS bertenor 10-tahun melanjutkan kenaikannya pada Selasa waktu setempat, yaitu naik 1,567 persen. Investor bertaruh The Fed akan memenuhi janjinya untuk memotong stimulus pembelian obligasi darurat karena inflasi melonjak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News