Mata uang rupiah. Foto : MI.
Mata uang rupiah. Foto : MI.

Rupiah Betah Banget Sih di Level Rp15.230/USD

Arif Wicaksono • 30 September 2022 15:33
Jakarta: Mata uang rupiah menguat pada dolar AS. Mata uang rupiah terdongkrak setelah mata uang acuan poundsterling atau GBP menguat, sehingga mengikis laju dolar AS terhadap mata uang dunia.
 
baca juga: Ini Penyebab Rupiah Bisa Terbang Tinggalkan Dolar

Bloomberg mencatat mata uang rupiah berada pada level Rp15.230 per USD atau menguat 32,5 bps atau 0,21 persen pada penutupan perdagangan Jumat, 30 September 2022. Yahoo Finance melansir mata uang rupiah berada pada level Rp15.225 per USD atau naik 35 bps atau 0,22 persen.
 
"Peluang rupiah hari ini cukup baik, memang sangat dipengaruhi oleh sentimen global," kata Ekonom Senior Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto, saat dihubungi Antara, Jumat, 30 September 2022.
 
Rully menyampaikan dalam beberapa hari terakhir memang banyak terpengaruh oleh sentimen pelemahan poundsterling, karena terjadi gejolak di pasar obligasi pemerintah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Pasar sudah agak tenang setelah BoE melakukan intervensi, dengan komitmen senilai 65 miliar poundsterling," ujar Rully.
 
Poundsterling naik tajam dalam perdagangan yang fluktuatif pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), reli dari rekor terendah yang dicapai pada Senin, 26 September 2022, setelah BoE melakukan pembelian obligasi untuk menstabilkan pasar keuangan.
 
Poundsterling membukukan kenaikan persentase satu hari terbesar sejak Maret 2020 dan terakhir diperdagangkan pada 1,1076 dolar, melonjak 1,8 persen. Setelah mencapai palung sepanjang masa di 1,0327 dolar AS tiga hari lalu, sterling telah reli lebih dari tujuh persen terhadap dolar AS.
 
BoE membeli 1,415 miliar poundsterling (USD1,55 miliar) obligasi pemerintah Inggris dengan jangka waktu lebih dari 20 tahun, hari kedua dari program multi-miliar poundsterling yang dirancang untuk menstabilkan pasar.
 
"Namun memang outlook global terus menurun, kekhawatiran terjadi resesi global di 2023 semakin besar. Negara-negara besar terancam resesi," kata Rully.
 
(SAW)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif