Studi tersebut memetakan empat tipe perilaku pengeluaran saat bepergian, yakni Smart Planner, Budget Traveler, Experience Spender, dan Comfort Seeker. Hasilnya menunjukkan, mayoritas responden di semua generasi tetap mengedepankan perencanaan matang sebelum membelanjakan uangnya.
| Baca juga: Mendorong Generasi Muda Melek Finansial Lewat Digitalisasi |
Pada kelompok Gen X, kelahiran (1965-1980), sebanyak 51% tergolong Smart Planner, yakni tipe pelancong yang fokus membandingkan harga dan mencari promo. Sebanyak 24% masuk kategori Budget Traveler, 17% Experience Spender, dan 8% Comfort Seeker. Artinya, Gen X cenderung berhati-hati dan rasional dalam mengelola anggaran perjalanan.
Sementara itu, pada generasi milenial (Gen Y), kelahiran 1981-1996, 46% merupakan Smart Planner, 21% Comfort Seeker, 17% Experience Spender, dan 16% Budget Traveler. Temuan ini menunjukkan milenial relatif seimbang antara perencanaan dan kenyamanan selama bepergian.
Adapun Gen Z, kelahiran 1997-2012, memperlihatkan pola yang lebih variatif. Sebanyak 35% termasuk Smart Planner, 30% Experience Spender, 19% Budget Traveler, dan 16% Comfort Seeker. Angka ini menandakan Gen Z lebih terbuka mengeluarkan dana demi pengalaman unik, meski tetap mempertimbangkan anggaran.
Dalam ilustrasi riset tersebut, Gen X digambarkan gemar membandingkan harga dan promo sebelum membeli. Gen Y menilai kenyamanan tetap penting, sedangkan Gen Z bersedia membayar lebih untuk pengalaman yang dianggap berharga, meskipun tetap mengacu pada perhitungan anggaran.
Sebagai bagian dari SMBC Indonesia, Jenius menilai perbedaan karakter ini mencerminkan perubahan prioritas dan gaya hidup antar generasi dalam memaknai perjalanan. Meski pendekatannya berbeda, benang merahnya tetap sama: traveling bukan lagi sekadar soal liburan, tetapi juga bagian dari keputusan finansial yang terencana.
Dana Darurat
Studi tersebut menunjukkan, mayoritas responden dari berbagai generasi mengandalkan dana darurat ketika menghadapi situasi tak terduga saat bepergian, seperti cuaca ekstrem, pembatalan transportasi, hingga kebutuhan tambahan mendadak.Pada kelompok Gen X, sebanyak 45% responden mengaku mengandalkan dana darurat saat traveling. Sementara 17% memilih menggunakan anggaran lain, 15% mengandalkan dana darurat dan opsi lain secara bersamaan, 8% mengambil pinjaman, dan 9% memilih solusi lainnya.
Di kalangan milenial (Gen Y), 45% juga menjadikan dana darurat sebagai solusi utama. Sebanyak 21% memanfaatkan dana darurat sekaligus anggaran lain, 20% menggunakan pos bujet berbeda, 8% meminjam dana, dan 6% memilih alternatif lainnya.
Adapun Gen Z menunjukkan pola yang sedikit berbeda. Sebanyak 34% responden Gen Z mengandalkan dana darurat, 33% menggunakan anggaran lain, 23% memanfaatkan keduanya, 8% meminta bantuan teman, dan 4% mengambil pinjaman.
Ilustrasi dalam riset tersebut menggambarkan skenario peringatan cuaca buruk (blizzard warning) yang memaksa traveler memperpanjang masa tinggal di hotel atau mencari solusi tambahan. Dalam kondisi seperti ini, ketersediaan dana darurat dinilai mampu mengurangi stres dan memberikan rasa aman selama perjalanan.
Asuransi Perjalanan
Dalam riset tersebut, sebanyak 58% responden dari Gen X, Gen Y (milenial), dan Gen Z mengaku tidak membeli asuransi perjalanan saat traveling. Padahal, proteksi perjalanan dinilai dapat memberikan rasa tenang dan perlindungan finansial dari berbagai risiko tak terduga.Beberapa risiko yang umumnya ditanggung asuransi perjalanan antara lain penolakan visa, pembatalan atau penundaan perjalanan, kehilangan atau kerusakan bagasi, biaya medis dan perawatan darurat, hingga kecelakaan selama perjalanan.
Ilustrasi dalam studi menggambarkan situasi koper rusak saat bepergian. Tanpa asuransi, traveler harus menanggung sendiri biaya kerusakan tersebut. Sebaliknya, dengan proteksi perjalanan, risiko finansial dapat diminimalkan melalui klaim asuransi.
Temuan ini menunjukkan bahwa meski masyarakat semakin sadar pentingnya perencanaan anggaran traveling, perlindungan risiko masih kerap diabaikan. Padahal, biaya tambahan untuk asuransi relatif kecil dibandingkan potensi kerugian yang bisa timbul selama perjalanan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News