Ilustrasi perbankan syariah. Foto: Antara/Ismar Patrizki
Ilustrasi perbankan syariah. Foto: Antara/Ismar Patrizki

Pangsa Pasar Keuangan Syariah Naik Jadi 9,03% di April 2020

Ekonomi perbankan syariah ekonomi syariah
Husen Miftahudin • 02 Juli 2020 18:12
Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pangsa pasar atau market share keuangan syariah Indonesia pada April 2020 mencapai 9,03 persen dari total aset industri keuangan nasional. Angka itu mengalami kenaikan bila dibandingkan pangsa pasar keuangan syariah domestik yang pada 2019 lalu baru mencapai 8,71 persen.
 
Pada periode yang sama total aset keuangan syariah Indonesia, tidak termasuk saham syariah, mencapai Rp1.496,05 triliun. Jumlah ini juga mengalami kenaikan bila dibandingkan total aset keuangan syariah yang pada Juli 2019 hanya sebanyak Rp1.359 triliun.
 
Direktur Pengaturan dan Perizinan Perbankan Syariah OJK Deden Firman Hendarsyah menyebutkan aset keuangan syariah terbesar berasal dari pasar modal syariah yang memiliki nilai sebesar Rp851,72 triliun. Selanjutnya, perbankan syariah dan industri keuangan non-bank (IKNB) syariah masing-masing senilai Rp534,86 triliun dan Rp109,47 triliun.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kepemilikan sukuk perbankan syariah masih kecil angkanya, kita tidak berhenti sampai kepemilikan, tetapi peran apa yang bisa diambil dari maraknya sukuk ini," ujar Deden dalam acara Maybank Indonesia Shariah Leaders Forum 2020, Kamis, 2 Juli 2020.
 
Dari sisi perbankan, jelasnya, aset perbankan syariah sebesar 6,07 persen yang berasal dari 20 unit usaha syariah (UUS), 14 bank umum syariah (BUS), dan 163 bank perkreditan rakyat (BPR) Syariah. Sementara total aset perbankan syariah pada periode yang sama mencapai Rp534,86 triliun.
 
Deden kemudian mengajak para stakeholder untuk menangkap peluang demi memperbesar porsi pangsa pasar keuangan syariah. Maklum, perbankan syariah di Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
 
Bahkan, pemerintah Indonesia berharap pengembangan ekonomi dan keuangan syariah dapat menjadi salah satu motor penggerak perekonomian nasional. Ini tercermin dari proyeksi pemerintah terhadap pangsa pasar keuangan syariah Indonesia pada 2023-2024 yang meningkat menjadi 20 persen.
 
"Layanan keuangan syariah nantinya tidak hanya menjadi pilihan alternatif saja, namun bisa menjadi layanan mainstream seperti halnya bank konvensional," tuturnya.
 
Pada kesempatan yang sama, Presiden Direktur PT Bank Maybank Indonesia Tbk Taswin Zakaria mengungkapkan pengembangan perbankan syariah di Indonesia butuh dukungan infrastruktur yang memadai. Selain untuk mendorong pengembangan, infrastruktur tersebut juga dinilai mampu mendongkrak kondisi pasar yang sedang melemah akibat meluasnya penyebaran pandemi covid-19.
 
"Untuk dapat merealisasikan kontribusi dan perannya, perbankan syariah membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai seperti di antaranya regulasi, kesiapan teknologi, hingga investasi sumber daya," urai Taswin.
 
Menurut Taswin, berbagai dukungan infrastruktur tersebut bertujuan untuk melakukan penetrasi pasar dan penyediaan solusi keuangan berbasis syariah. Dengan begitu perbankan syariah diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan tantangan bisnis saat ini.
 
Layanan teknologi digital misalnya, kehadiran inovasi ini diyakini mampu mempercepat proses adaptasi masyarakat. Hal ini juga dapat menggerakkan kembali perputaran ekonomi pada sektor ritel.
 
"Termasuk food and beverage, melalui e-commerce, serta sektor perbankan untuk memenuhi kebutuhan transaksi finansial melalui pemanfaatan teknologi tersebut," tutup Taswin.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif