Ilustrasi aliran dana asing masuk RI - - Foto: dok Antara
Ilustrasi aliran dana asing masuk RI - - Foto: dok Antara

Sentimen Positif Tapering Off AS Bikin RI Kebanjiran Modal Asing

Ekonomi pengangguran Ekonomi Amerika capital inflow Pasar Keuangan
Husen Miftahudin • 16 Juni 2021 22:43
Jakarta: Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menyatakan kekhawatiran pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang lebih awal dari perkiraan sudah relatif berkurang. Hal ini dikarenakan rilis angka pengangguran masih jauh dari angka jangka panjang.

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky mengatakan The Fed memberikan jaminan untuk tetap dalam sikap kebijakan yang akomodatif hingga tercapainya perbaikan tenaga kerja inklusif. Hal tersebut dianggap sebagai sinyal yang jelas bagi investor terkait isu tapering off.
 
"Oleh karena itu, sentimen pasar global yang cukup baik terhadap tapering off AS berkontribusi pada berlanjutnya aliran modal masuk ke negara-negara berkembang sejak awal Juni," ujar Riefky dalam rilis Analisis Makroekonomi Edisi Juni 2021, Rabu, 16 Juni 2021.
 
Di Indonesia, sambung Riefky, sentimen positif pasar terhadap aset domestik membuat aliran modal masuk menjadi USD7,85 miliar pada pekan kedua Juni 2021 dari USD6,43 miliar pada pertengahan Mei 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Aliran masuk modal yang didominasi oleh obligasi pemerintah juga telah menurunkan imbal hasil obligasi pemerintah 10-Tahun dan 1-Tahun menjadi 6,5 persen dan 3,5 persen pada pertengahan Juni dari masing-masing 6,6 persen dan 3,8 persen pada pertengahan Mei.

 
"Akibat aliran masuk modal tersebut, rupiah menguat pada pertengahan Juni ke level sekitar Rp14.300 dari sekitar Rp14.500 pada bulan sebelumnya. Rupiah berkinerja lebih baik daripada rekan-rekannya, termasuk ringgit Malaysia dan baht Thailand," sebutnya.
 
Namun demikian, aku Riefky, lonjakan arus modal tersebut belum diterjemahkan ke dalam peningkatan cadangan devisa yang tinggi pada bulan lalu. Sebaliknya, cadangan devisa turun sekitar USD2,4 miliar menjadi USD136,4 miliar karena siklus pembayaran utang luar negeri pemerintah.
 
"Meski demikian, angka cadangan devisa terbaru masih cukup untuk meredam gejolak karena cadangan tersebut setara dengan 9,1 impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini masih tercatat lebih tinggi dari standar kecukupan cadangan devisa sekitar tiga bulan impor," ucap Riefky.
 
Meskipun beberapa indikator ekonomi utama dari sisi domestik dan eksternal menunjukkan tanda pemulihan yang menjanjikan, meningkatnya kasus covid-19 di Indonesia akhir-akhir ini menunjukkan kemungkinan perbaikan kondisi ekonomi yang bersifat sementara.
 
Dia mengingatkan bahwa lonjakan kasus baru harian menjadi peringatan bagi pemangku kebijakan untuk mengantisipasi potensi gangguan pada agenda pemulihan ekonomi. Jika kondisi ini tidak terkendali dalam waktu singkat, pemulihan kepercayaan konsumen dan bisnis dapat memudar.
 
"Selain itu, munculnya kembali kasus covid-19 dapat menahan kepercayaan investor terhadap aset Indonesia dan menyebabkan arus modal balik," kata dia.
 
Di sisi lain, pasar menyadari sepenuhnya bahwa tekanan eksternal dari tapering off the Fed yang berpotensi lebih awal dari perkiraan masih berlanjut. Jika The Fed memulai taper-off pada awal paruh kedua tahun ini, bank sentral negara-negara berkembang harus mempertimbangkan risiko dalam setiap pengukuran kebijakan yang mereka putuskan dalam waktu dekat.
 
"Oleh karena itu Bank Indonesia harus menjaga nilai tukar dan stabilitas keuangan sebagai langkah pre-emptive terhadap ketidakpastian global dari tapering off AS, meskipun basis moneter saat ini jauh lebih menguntungkan daripada menjelang taper tantrum 2013," tutup Riefky.

 
(Des)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif