Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen - - Foto: Medcom/ Desi Angriani
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen - - Foto: Medcom/ Desi Angriani

OJK: Aksi Buyback Seimbangkan Pasokan Saham di Pasar Modal

Ekonomi ojk bursa saham Buyback
Desi Angriani • 10 Maret 2020 22:27
Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengizinkan semua emiten atau perusahaan publik melakukan pembelian kembali (buyback) saham tanpa memperoleh persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPS). Kebijakan tersebut dilakukan demi menyeimbangkan pasokan dan permintaan saham yang diperjualbelikan di pasar modal.
 
"Intinya kebijakan buyback ini untuk menambah sisi permintaan. Karena kemarin kan sempat permintaan sangat minim sementara supply terlalu banyak. Kita berupaya membuat demand dari koorporasi emiten," kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen saat ditemui Medcom.id di Studio 1, Gedung Metro TV, Jakarta, Selasa, 10 Maret 2020.
 
Hoesen menjelaskan jumlah saham yang dapat dibeli kembali dapat lebih dari 10 persen dari modal disetor dan paling banyak 20 persen dari modal disetor. Dengan ketentuan paling sedikit saham yang beredar 7,5 persen dari modal disetor.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ketentuan tersebut dituangkan dalam Surat Edaran OJK Nomor 3/SEOJK.04/2020 tanggal 9 Maret 2020 tentang Kondisi Lain Sebagai Kondisi Pasar Yang Berfluktuasi Secara Signifikan Dalam Pelaksanaan Pembelian Kembali Saham Yang Dikeluarkan Oleh Emiten Atau Perusahaan Publik.
 
"Kita perbolehkan buyback tanpa RUPS. Karena kita lihat harga saham relatif rendah dibanding fundamentalnya. Jadi dari standar pasar normal ini sudah sangat murah," jelasnya.
 
Ia pun belum tau jumlah saham yang digelontorkan masing-masing emiten yang melakukan aksi buyback. Sebab ketentuan itu baru saja diberlakukan hari ini.
 
Menurutnya, pergolakan di bursa saham tidak boleh dibiarkan lantaran Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk sebesar 19 persen sejak awal 2020. Karena itu, kebijakan buyback diyakini dapat menenangkan pasar dan tidak menimbulkan spekulasi negatif dari investor.
 
"Kebijakan ini sampai kita butuhkan, kita cek setiap setiap hari. Intinya ingin menenangkan pasar, bukan karena rumor tapi harus rasional," pungkas dia.

 

(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif