Tak sekadar membuka rekening, pemerintah juga akan memberikan saldo awal yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dana tersebut diklaim nantinya bisa langsung ditarik oleh pemilik rekening.
Program ini akan melibatkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) sebagai bank yang memfasilitasi pembukaan rekening.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan rekening tersebut nantinya dapat digunakan untuk mengonsolidasikan berbagai program pemerintah.
"Jadi kalau rekening ini kan untuk berbagai program pemerintah, jadi nanti dikonsolidasi di BRI maupun di BSI. Nanti yang punya multiple account juga nanti kita akan lihat," ujar Airlangga dalam tayangan Headline News Metro TV, dikutip Jumat, 11 September 2026.
Saldo Rp50 Ribu Bisa Langsung Ditarik
Saldo awal menjadi salah satu bagian menarik dari skema rekening massal ini. Setiap rekening yang dibuka akan mendapatkan Rp50 ribu dari APBN.Dana tersebut bukan saldo yang harus dibiarkan tersimpan. Pemilik rekening nantinya dapat langsung menarik uang tersebut.
Di sisi lain, rekening yang dibuka tidak hanya ditujukan sebagai tempat menyimpan uang. Pemerintah ingin menjadikannya sebagai bagian dari sistem untuk menyalurkan dan mengonsolidasikan berbagai program pemerintah.
Sasar Sekitar 200 Juta WNI
Skala program ini cukup besar. Pemerintah memperkirakan sekitar 200 juta penduduk akan menjadi sasaran pembukaan rekening.BRI dan BSI disiapkan untuk mendukung proses tersebut. Pemerintah juga akan melihat masyarakat yang sudah memiliki lebih dari satu rekening atau multiple account agar skema rekening massal ini dapat berjalan lebih terintegrasi.
Meski demikian, peluncuran rekening massal ini belum dilakukan sekaligus. Pemerintah masih mempersiapkan mekanisme pelaksanaannya dan akan menjalankannya secara bertahap.
Koordinasi juga dilakukan bersama Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menyiapkan pelaksanaan program tersebut.