Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan pekan ini di zona hijau. Berdasarkan pantauan data pasar finansial pada Senin, 7 September 2026 pagi, IHSG menguat 0,25% atau 16,91 poin ke level 6.653,39.
Penguatan IHSG terjadi di tengah pergerakan bursa saham Asia yang mayoritas berada di zona hijau. Sejumlah indeks utama kawasan mencatat kenaikan cukup signifikan, terutama bursa Korea Selatan dan Jepang.
| Baca juga: IHSG Tembus 6.650 dan Lanjut Menguat, Investor Waspadai Profit Taking |
Indeks KOSPI Korea Selatan menjadi salah satu penguat utama setelah melesat 3,17% ke level 6.899,02. Sementara itu, indeks Nikkei 225 Jepang naik 2,23% ke posisi 66.468,00.
Di kawasan Asia Tenggara, indeks SET Thailand memimpin penguatan dengan naik 1,18% ke level 1.595,58. Indeks VNI Vietnam turut menguat 0,66% menjadi 1.865,34.
Penguatan tipis juga terjadi pada indeks KLCI Malaysia yang naik 0,19% ke level 1.711,38.
Namun, tidak seluruh bursa Asia bergerak positif. Indeks Hang Seng Hong Kong justru terkoreksi 1,03% ke level 25.387,00.
Indeks Shanghai Composite juga melemah tipis 0,07% ke level 3.927,52. Sementara itu, indeks PSEi Composite Filipina turun 0,19% dan Straits Times Singapura terkoreksi 0,32%.
IHSG Berpotensi Koreksi
Kepala Ekonom Mirae Sekuritas Rully Arya Wisnubroto mengatakan pergerakan IHSG masih dibayangi aksi ambil untung setelah reli pada pekan sebelumnya.
Menurut Rully, IHSG sempat melemah 0,5% ke level 6.636 dengan net sell asing tipis sekitar Rp317 miliar. Aksi jual asing terutama terjadi pada sejumlah saham seperti DSSA, ASII, BBCA, dan ANTM.
"Top laggards didominasi BBCA, ASII, dan BMRI — motor penguatan pekan lalu — mengindikasikan profit taking usai rally," kata Rully.
Di sisi lain, sejumlah saham yang menjadi pemimpin penguatan justru berasal dari emiten yang sebelumnya berada di luar radar investor. NATO dan IMPC menjadi beberapa saham yang mencatatkan penguatan.
Rully menilai kondisi tersebut menunjukkan investor mulai lebih selektif dalam menentukan saham pilihan di tengah potensi koreksi IHSG.
Rupiah Stabil
Dari pasar valuta asing, nilai tukar rupiah masih bergerak relatif stabil di sekitar level Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (USD). Kondisi tersebut ditopang pelemahan indeks dolar AS atau DXY yang berada di level 99,08.
Sentimen global juga masih dipengaruhi perkembangan kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed).
Tekanan Presiden AS Donald Trump terhadap Kevin Warsh turut menjadi perhatian pasar di tengah spekulasi mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.
Dolar AS sempat menguat setelah data tenaga kerja AS menunjukkan kondisi yang solid. Namun, penguatan tersebut kemudian mereda menjelang rilis data inflasi konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS pada 11 September 2026.
Menurut Rully, kondisi tersebut mengindikasikan koreksi IHSG lebih bersifat teknikal. Investor diperkirakan tetap selektif sembari menunggu kejelasan arah kebijakan The Fed dan munculnya katalis baru yang dapat kembali mendorong aksi beli asing, khususnya pada saham-saham perbankan besar.
Pergerakan IHSG pada awal pekan ini pun masih akan dipengaruhi sentimen pasar global, arah rupiah, serta ekspektasi investor terhadap kebijakan suku bunga The Fed.