Penguatan dolar AS tercermin dari pergerakan Indeks Dolar AS (DXY) yang naik tipis ke level 101,182. Kondisi ini memberikan tekanan terhadap sejumlah mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
| Baca juga: Dolar AS Tembus Rp17.851, Laju Rupiah Kembali Tertekan di Awal Perdagangan |
Selain terhadap dolar AS, rupiah juga melemah terhadap beberapa mata uang utama dunia lainnya. Rupiah melemah terhadap yuan China tercatat naik 0,08 persen ke level Rp2.640,23 per yuan. Rupiah juga melemah terhadap Yen Jepang yang menguat 0,06 persen ke posisi Rp110,94, sementara itu rupiah kian melemah terhadap dolar Singapura yang naik 0,03 persen menjadi Rp13.821,46.
Adapun euro relatif stabil dan diperdagangkan di level Rp20.437 per euro. Meski demikian, rupiah masih mampu mencatat penguatan terhadap sejumlah mata uang regional. Rupiah naik 0,01 persen terhadap Ringgit Malaysia ke level Rp4.326,06.
Sementara itu, rupiah naik 0,16 persen terhadap won Korea Selatan menjadi Rp11,6691. Rupiah juga naik terhadap baht Thailand 0,39 persen ke level Rp537,08. Di pasar komoditas, harga emas dunia bergerak melemah seiring menguatnya dolar AS. Emas spot (XAU/USD) turun 21,40 poin atau 0,52 persen dan diperdagangkan di level USD4.088,71 per troy ons.
Pergerakan tersebut menunjukkan investor masih mencermati berbagai sentimen global, termasuk arah kebijakan bank sentral utama dunia yang memengaruhi pergerakan mata uang dan harga komoditas.
Penguatan dolar AS umumnya membuat aset lindung nilai seperti emas menjadi kurang menarik karena harga logam mulia tersebut menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Di saat yang sama, mata uang negara berkembang juga cenderung menghadapi tekanan akibat aliran modal yang bergerak menuju aset berbasis dolar AS.
Pelaku pasar kini menantikan sejumlah data ekonomi global dan sinyal kebijakan moneter dari bank sentral yang diperkirakan akan menjadi faktor penentu arah pergerakan pasar keuangan dalam beberapa waktu ke depan.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda