"BI hari ini akan mengumumkan hasil keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) untuk bulan ini dan kami memperkirakan masih akan tetap dipertahankan pada 4,75%," tegas Head of Research and Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto.
"Kami menilai BI masih akan memprioritaskan stabilitas nilai tukar di tengah pelemahan Rupiah yang pada perdagangan kemarin berada di kisaran 16.880 per USD.," tegas dia.
Upaya menjaga daya tarik aset rupiah juga tercermin dari dua lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pekan lalu. Imbal hasil yang ditawarkan meningkat di seluruh tenor, dengan nominal penyerapan yang turut naik.
Langkah ini dipandang sebagai strategi mempertahankan spread yang kompetitif terhadap imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury (UST), sekaligus meredam tekanan terhadap rupiah.
Di sisi lain, tekanan inflasi mulai terlihat menjelang periode Ramadan dan Lebaran pada Februari–Maret. Kenaikan permintaan musiman berpotensi mendorong harga sejumlah komoditas pangan, sehingga ruang bagi BI untuk menurunkan suku bunga tambahan menjadi semakin terbatas.
Meski demikian, sentimen pasar domestik menunjukkan perbaikan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan kemarin menguat signifikan dan disertai aksi beli bersih (net buy) investor asing untuk pertama kalinya sejak pekan lalu. Perkembangan ini mengindikasikan mulai pulihnya kepercayaan investor terhadap aset domestik menjelang pengumuman hasil RDG BI.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News