Ilustrasi. FOTO: Medcom.id
Ilustrasi. FOTO: Medcom.id

Kasus Covid-19 Terus Meledak, Rupiah Dibuka Melemah ke Rp14.505/USD

Angga Bratadharma • 13 Juli 2021 09:31
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Selasa terpantau melemah ketimbang hari sebelumnya yang berakhir di posisi Rp14.492 per USD. Mata uang Garuda masih belum mulus menghantam mata uang Paman Sam seiring ledakan covid-19 yang masih terus terjadi.
 
Mengutip Bloomberg, Selasa, 13 Juli 2021, nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi dibuka tertekan ke level Rp14.505 per USD. Pagi ini nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp14.490 hingga Rp14.505 per USD. Sedangkan menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.318 per USD.

 
Data Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 mencatat sebanyak 40.427 kasus covid-19 terdeteksi pada Senin, 12 Juli 2021. Penambahan ini yang tertinggi sejak pandemi melanda Indonesia pada Maret 2020 sehingga total kasus konfirmasi positif 2.567.630 orang.
 
Penambahan ini berdasarkan pemeriksaan 149.744 spesimen dengan metode PCR dan TCM. Sedangkan pasien sembuh bertambah 34.754 orang yang artinya total pasien sembuh sebanyak 2.119.478 orang. Pasien meninggal akibat covid-19 bertambah 891 pada Senin, 12 Juli. Total korban jiwa mencapai 67.355

Sementara itu, dolar Amerika Serikat menguat terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Senin waktu setempat (Selasa WIB). Kekhawatiran tentang pandemi mendorong investor untuk mencari tempat yang aman saat mereka menunggu lebih banyak petunjuk tentang pemulihan ekonomi global.
 
Dengan pasar yang sangat sensitif terhadap pembicaraan tentang tapering (pengurangan pembelian obligasi) lebih awal, data inflasi AS pada Selasa waktu setempat akan diawasi dengan ketat menjelang kesaksian oleh Ketua Federal Reserve Jerome Powell pada Rabu, 14 Juli, dan Kamis, 15 Juli.

 
Laporan dari seluruh dunia tentang lonjakan infeksi varian virus korona Delta juga merugikan selera investor terhadap aset-aset berisiko. "Kehati-hatian pasar menguasai awal pekan ini membebani sentimen risiko dan mendorong dolar AS," kata Analis pasar senior di Western Union Business Solutions di Washington, Joe Manimbo.
 
Investor akan melihat data inflasi AS pada Selasa waktu setempat dan kesaksian ekonomi Ketua Federal Reserve Jerome Powell pada Rabu, 14 Juli, dan Kamis 15 Juli, ketika mereka menaksir ekspektasi bagi The Fed untuk memutar kembali stimulus segera setelah tahun ini.
 
"Laporan yang lebih panas kemungkinan akan meningkatkan imbal hasil obligasi pemerintah dan dolar serta membawa percakapan tapering Fed kembali ke garis depan," ujar Direktur Pelaksana, Analisis Mata Uang Global di Action Economics, Ronald Simpson, dalam catatannya.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama saingannya, naik 0,1 persen pada 92,264. Indeks tetap mendekati level tertinggi tiga bulan di 92,844 yang disentuh minggu lalu. Dolar Australia sering dipandang sebagai proksi risiko yang likuid melemah 0,17 persen.
 
Sterling jatuh karena Perdana Menteri Inggris Boris Johnson diperkirakan akan mengonfirmasi rencana untuk menghapus hampir semua pembatasan covid-19 yang tersisa di Inggris mulai 19 Juli, meskipun ada lonjakan kasus ke tingkat yang tidak terlihat selama berbulan-bulan. Poundsterling merosot 0,22 persen menjadi USD1,3879.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ABD)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan