Ilustrasi tenaga pemasar asuransi - - Foto: Antara/ Andika Wahyu
Ilustrasi tenaga pemasar asuransi - - Foto: Antara/ Andika Wahyu

Jumlah Tenaga Pemasar Asuransi Jiwa Capai 650 Ribu Orang

Ekonomi asuransi jiwa Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI)
Husen Miftahudin • 23 Juli 2020 09:51
Jakarta: Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat jumlah tenaga pemasar mencapai 650.443 orang hingga kuartal I-2020. Mereka berkontribusi terhadap total premi sebesar 44,4 persen, diikuti keagenan dengan kontribusi sebesar 38,4 persen.
 
Direktur Eksekutif AAJI Togar Pasaribu mengatakan jumlah tenaga pemasar di industri asuransi jiwa terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan keberadaan perusahaan asuransi di Indonesia bukan hanya turut mendorong kewirausahaan dan membuka lapangan kerja, tetapi juga mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.
 
Menjadi tenaga pemasar pun bukan perkara mudah. Sebab, perundang-undangan menyatakan tenaga pemasar wajib terdaftar di AAJI dan lulus dalam ujian sertifikasi keagenan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tujuan ujian sertifikasi tenaga pemasar adalah untuk memastikan kompetensi, keahlian, perhatian, dan kecermatan tenaga pemasar dalam bertransaksi dengan nasabah," ujar Togar kepadaMedcom.id, Kamis, 23 Juli 2020.
 
Selanjutnya, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) juga mengatur setiap tenaga pemasar wajib mengikuti pelatihan produk yang diselenggarakan oleh perusahaan asuransi setiap tahunnya.
 
"Produk asuransi jiwa tidak dapat dijual oleh tenaga pemasar yang tidak memiliki sertifikasi keagenan, baik untuk produk yang ditawarkan oleh agen perusahaan secara langsung atau melalui bancassurance," paparnya.
 
Sementara itu, AAJI telah memiliki 60 perusahaan asuransi jiwa sebagai anggota per Juli 2020. Selama kurun waktu 2010 hingga 2019, industri asuransi jiwa telah membayarkan klaim sebanyak Rp890,47 triliun.
 
Menurut Togar, hal ini menunjukkan komitmen yang konsisten dari para perusahaan asuransi jiwa dalam memberikan pelayanan dan perlindungan kepada masyarakat Indonesia sebagaimana dicantumkan dalam ketentuan polis.
 
"Memenuhi ketentuan dalam polis dan komitmen kepada nasabah merupakan bagian dari penerapan prinsip kehati-hatian dan prinsip tata kelola perusahaan, termasuk etika dalam berusaha yang harus dijalankan oleh industri asuransi jiwa sebagai bagian dari industri keuangan," ucap Togar.
 
Oleh karena itu, sebut dia, sejumlah kasus di mana tenaga pemasar kurang menjelaskan dengan baik dan nasabah kurang memahami isi polis yang ditandatanganinya, tidak dapat dijadikan tolok ukur mengenai kondisi asuransi jiwa secara menyeluruh.
 
Togar menyampaikan, polis adalah perjanjian yang mengikuti Undang-Undang (UU) Perasuransian dan menjelaskan secara detail tentang ketentuan yang harus dipenuhi oleh pemegang polis dan perusahaan asuransi agar mencegah perselisihan antara nasabah dan perusahaan atau tenaga pemasar di kemudian hari.
 
Setiap calon nasabah juga diminta untuk membaca dan memahami isi polis sebelum menandatanganinya. Calon nasabah juga diberikan waktu untuk mempelajari isi polis setelah polis diterima oleh nasabah.
 
"Bahkan pada waktu proses penjualan produk asuransi, perusahaan asuransi telah menyampaikan ringkasan informasi produk dan ilustrasi (untuk produk-produk yang dikaitkan dengan investasi), serta melakukan analisa kebutuhan nasabah sebagaimana telah diatur dalam Peraturan OJK," tutup Togar.
 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif