Fase pertama, penyelamatan ekonomi. Fase ini dilakukan secara bertahap pada 2020 hingga awal 2021 dengan menerapkan manajemen krisis, restrukturisasi (keringanan) kredit, dan relaksasi kebijakan.
"Kunci penyelamatan pada fase pertama adalah bantuan sosial (bansos) dan restrukturisasi kredit. Pada fase ini pertumbuhan ekonomi diproyeksi bisa tumbuh 1,40 persen," ungkap Juda dalam uji kelayakan dan kepatutan dengan Komisi XI DPR, Selasa, 7 Juli 2020.
Sementara untuk fase kedua adalah fase pemulihan. Fase ini dilakukan pada 2021 dengan terus mendorong akselerasi pemulihan ekonomi, reaktivasi ekonomi, mendorong permintaan, dan menyiapkan perkembangan ekonomi digital.
Upaya ini diharapkan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi secara nasional. Bahkan Juda optimistis ekonomi di 2021 ini tumbuh 6,71 persen.
"Untuk pemulihan ekonomi ini kuncinya sejauh mana efektivitas dan upaya kita dalam menangani covid-19 dan pemulihan ekonomi," beber dia.
Fase ketiga ialah fase normalisasi kebijakan yang dilakukan pada 2022 hingga 2023. Dalam hal ini perlu normalisasi kebijakan dan penguatan struktural untuk menuju kondisi ekonomi baru.
"Jika bisa dilakukan, ekonomi Indonesia dapat tumbuh 5,35 persen pada 2022 dan 5,42 persen pada 2023," harap Juda.
Juda Agung merupakan salah satu dari tiga calon Deputi Gubernur Bank Indonesia untuk menggantikan posisi Erwin Rijanto sebagai Deputi Gubernur BI bidang III yang membawahi bidang moneter, stabilitas sistem keuangan, pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), dan hukum.
Saat ini Juda menjabat sebagai Asisten Gubernur, Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI. Namanya masuk dalam bursa calon Deputi Gubernur BI yang diajukan Presiden Joko Widodo kepada DPR sebagai calon pengganti Erwin Rijanto.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News